Perempuan Aceh di Masa Lampau

Minggu, 18 Agustus 2019

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sulthan Alfaraby

Sulthan Alfaraby

Perempuan Aceh, bisa dikatakan laksana kelembutan sebutir mutiara khas perairan tropis, dibalut kulit berduri, namun memikat kaum lelaki. Selain menyikat serdadu Belanda di medan pertempuran yang mencekam, seperti kisah heroik yang dilakukan oleh Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Laksamana Malahayati, dan lainnya, perempuan Aceh di masa lampau juga hidup dalam kemandirian, baik itu dari kalangan bangsawan maupun kalangan masyarakat biasa. Mereka sudah terbiasa menghadapi dunia ini dengan ganasnya pertempuran dan selalu siap siaga akan kematian.
.
Namun lagi, bagaimana keadaan perempuan Aceh sekarang? Apakah mareka masih tetap mengikuti jejak panutannya tersebut, atau hanya berperan sebagai ibu rumah tangga saja tanpa tahu keadaan tanahnya yang terjajah? Atau lebih suka berdandan dan bertumpu penuh kepada suaminya? Bagaimana jika sang suami telah tiada, apa yang bisa dilakukan oleh perempuan Aceh saat ini dan bagaimana cara berjuang di masa sekarang menghadapi kerasnya tuntutan zaman? Apakah sekarang masih ada perempuan Aceh bermultitalenta dan pemberani seperti di masa lampau?.

BACA JUGA...  Pertama Kali Beringin Didapuk Saung Edukasi Bayer

Mari kita kembali kepada sejarah perempuan-perempuan Aceh. Sedari dulu, perempuan Aceh lahir dari rahim-rahim yang tangguh. Mereka dibesarkan dengan kemandirian. Bahkan ketika perang Aceh berlangsung, yang dimana perang itu merupakan salah satu pertempuran terbesar saat itu, mereka para wanita Aceh ikut berkontribusi dan melebur dalam heroisme perjuangan layaknya kaum Adam lainnya. Rentetan peluru dilontarkan dan kalimat semangat yang menggema mereka teriakkan, meskipun dalam fase dan kemasan yang berlainan.

Semangat dan darah pejuang yang mengalir di dalam tubuh perempuan Aceh di masa lampau, sontak menggerakkan kesadaran seluruh pelosok Aceh untuk mampu bertahan di tengah suasana yang mencekam. Mereka bukan hanya gahar di ladang, sawah, hutan atau pesisir pantai! Serentetan aksi dan lontaran-lontaran peluru penjajah mereka hadapi dengan keberanian yang luar biasa. Mereka juga tidak mempunyai niat untuk mundur! Meskipun hanya sejengkal, dan jika memang masih memungkinkan untuk membuat kesengsaraan dan menciptakan semesta kematian kepada pihak penjajah, mereka masih juga tidak akan mundur sampai syahid sekalipun.

BACA JUGA...  Kas Bobol, LSM LAKI Minta DPRK Kota Subulussalam Beri Perhatian Khusus

Kita kembali kepada masa sekarang, ingin kita melihat perempuan-perempuan Aceh tangguh seperti para pendahulunya di masa lampau. Kita semua tidak ingin melihat perempuan Aceh yang lemah dari segala segi dan lingkup kehidupan. Karena kita percaya, bahwa perempuan Aceh pasti bisa ikut andil dalam berkontribusi untuk berjuang seperti layaknya laki-laki. Mengingat zaman yang semakin keras, dan perempuan Aceh juga dipaksakan untuk bertahan dalam kondisi-kondisi yang sulit. Kecantikan paras semata tidak ada gunanya jika dibandingkan dengan perempuan cerdas dan multitalenta, begitulah yang banyak dikatakan oleh orang-orang dan penulis yakin pembaca juga setuju dengan hal itu.

BACA JUGA...  Salihin: Dari Brigadir ke Parlemen Rakyat

Akhir dari tulisan ini, penulis berharap semoga perempuan-perempuan Aceh bisa menjadi penggerak perubahan untuk bangsa Aceh sendiri, karena jika kita melihat tokoh pejuang wanita pada masa lampau, tidak menutup kemungkinan bahwa perempuan Aceh di masa sekarang bisa menciptakan peradaban yang lebih baik dan lebih bermartabat. Teruslah maju para perempuan Aceh, dan buatlah lebih banyak kontribusi nyata dan perjuangan tak kenal menyerah yang dilahirkan dari kaum perempuan Aceh.

Oleh : Sulthan Alfaraby, ( Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi UIN At-Raniry Banda Aceh)

Berita Terkait

Ada Apa dengan Taman Budaya Sabang? BPJS Kesehatan Dipertanyakan
RSUD Yuliddin Away Kini Layani Pemasangan Ring Jantung
Program JKN Kian Kokoh, BPJS Kesehatan Cetak SDM Sehat Menuju Indonesia Emas 2045
Wakapolres hingga Kasat Reskrim Berganti, Polres Aceh Selatan Gelar Sertijab
Hari Bhayangkara ke-80, Polres Aceh Selatan Perkuat Sinergi dan Apresiasi Personel Berprestasi
Muzakir dan Tri Susanti Sirait Juara Bhayangkara Run Aceh Selatan 
70 Irpom Diturunkan, Aceh Tamiang Kebut Pemulihan 2.673 Hektare Sawah Pascabanjir
Sejumlah Insiden MBG di Aceh Selatan Diduga Akibat Lemahnya Koordinasi dan Pengawasan

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 17:53 WIB

Ada Apa dengan Taman Budaya Sabang? BPJS Kesehatan Dipertanyakan

Jumat, 14 Agustus 2026 - 18:07 WIB

RSUD Yuliddin Away Kini Layani Pemasangan Ring Jantung

Kamis, 2 Juli 2026 - 21:03 WIB

Program JKN Kian Kokoh, BPJS Kesehatan Cetak SDM Sehat Menuju Indonesia Emas 2045

Kamis, 2 Juli 2026 - 20:40 WIB

Wakapolres hingga Kasat Reskrim Berganti, Polres Aceh Selatan Gelar Sertijab

Rabu, 1 Juli 2026 - 20:22 WIB

Hari Bhayangkara ke-80, Polres Aceh Selatan Perkuat Sinergi dan Apresiasi Personel Berprestasi

Berita Terbaru

RAGAM BERITA

Ambal Warso Ke-32 : Lestarikan Budaya Jawa

Minggu, 23 Agu 2026 - 15:27 WIB

Sekda Aceh, M. Nasir, S.IP., MPA

NANGGROE

Belum Genap 2 Tahun, M. Nasir Tinggalkan Kursi Sekda Aceh

Minggu, 23 Agu 2026 - 12:41 WIB

Foto bersama di puncak Benteng A Batere Meteo Gampong CIT Ba'U Sabang

PERISTIWA

Cot Ba’u Didorong Jadi Destinasi Wisata Budaya

Sabtu, 22 Agu 2026 - 22:38 WIB

PEMERINTAHAN

Amzi JMY Pimpin TDA Jakarta Selatan 9.0

Sabtu, 22 Agu 2026 - 21:58 WIB

RAGAM BERITA

Firdaus: Kita Harus Kolaborasi 

Sabtu, 22 Agu 2026 - 21:53 WIB