“Orang tua bertanya-tanya terus. Kalau pesantren berhenti, anak-anak tidak tahu harus pindah ke mana. Ini sudah pertengahan tahun ajaran dan kita tidak punya banyak waktu,” sebutnya.
Ditambahkan, para orang tua hanya ingin anak-anak mereka segera kembali belajar tanpa harus menunggu pergantian tahun ajaran. Terangnya, pemindahan siswa ke sekolah umum bukan solusi karena berpotensi menimbulkan masalah administrasi. Sistem pendataan seperti Dapodik telah terkunci pada semester berjalan sehingga proses kepindahan siswa akan menyulitkan terutama bagi santri atau tingkat akhir.
“Dapodik sudah terkunci, nilai semester sudah masuk. Pesantren memakai EMIS. Jika dipindahkan sekarang, administrasinya tidak sinkron. Ini yang membuat orang tua kebingungan,” jelasnya.
Lebih jauh diterangkan, kekhawatiran terbesar datang dari santri kelas 3 SMP dan kelas 3 SMA yang sebentar lagi menghadapi ujian kelulusan. Menurutnya, ketidakpastian ini berpotensi menghambat kelulusan karena seluruh nilai sebelumnya sudah terkunci di sistem.
“Mereka hanya menghitung bulan menuju ujian. Kalau pesantren tidak berjalan, dimana mereka ujian? Bagaimana nasib nilai mereka? Bagaimana mereka bisa lanjut ke jenjang berikutnya?,” tutupnya.




