Penghargaan yang diberikan MURI setimpal dengan karya gemilang penulis fiksi terbanyak Aceh Tamiang. Pengukuhannya pun berlangsung meriah, sontak Auditorium Perpustakaan Nasional RI, Lt. 2, Jl. Medan Merdeka Selatan No. 11, Jakarta bergemuruh kagum.
“Tamiang ini, Kabupaten kecil, tepat berada di ujung Timur provinsi Aceh. Gaungnya membangkitkan Asabat penulis tanah air. Mampu menelurkan penulis-penulis andal, bisa sejajar dengan penulis Nasional lainnya di Indonesia, berprestasi dan membanggakan daerah,” kata Armia.
Ribuan penulis dari seluruh Indonesia tumpah di Auditorium Perpustakaan Nasional RI mereka berpartisipasi.
Termasuk sembilan guru madrasah pegiat literasi dari Aceh Tamiang; Nurul Wahida [MAN 2 Aceh Tamiang], Febri Mira Rizki [MTsN 1 Aceh Tamiang], Yusrianum [Kepala Madrasah], Sri Ayu dan Nur Ainun [MIN 7 Aceh Tamiang], Ratnawati [MIN 7 Aceh Tamiang], Eka Lestari [MTsN 3 Aceh Tamiang], Sri Machdahariati [MIN 4 Aceh Tamiang], dan Sri Utami [MIN 2 Aceh Tamiang].
Dari 5.537 karya yang masuk, panitia menyaring hingga 3.149 karya lolos dan dibukukan dalam 55 buku antologi.
Ribuan karya ini, dipilih 200 penulis terbaik, salah satunya Nurul Wahida, guru Fisika MAN 2 Aceh Tamiang, dengan karyanya [Membawa Lapar hingga Ke Surga].




