Kepala Dinas Syariat Islam Nagan Raya, Damharius, juga menyampaikan pandangannya terkait fenomena ini. Menurutnya, perbedaan dalam penentuan awal Ramadan dan Idul Fitri adalah bagian dari dinamika keagamaan yang telah berlangsung lama. “Masyarakat Nagan Raya sudah terbiasa dengan perbedaan ini. Yang terpenting adalah menjaga harmoni dan tidak memperdebatkan perbedaan yang ada,” katanya.
Namun, tidak semua pihak setuju dengan perbedaan ini. Seorang tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya menyesalkan hal ini. “Seharusnya kita berusaha untuk menyatukan umat, bukan malah membiarkan perbedaan ini terus terjadi setiap tahun. Ini bisa berpotensi menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat,” ujarnya.
Pemerintah Indonesia telah menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1446 Hijriah jatuh pada Senin, 31 Maret 2025. Keputusan ini diambil berdasarkan sidang isbat yang melibatkan berbagai pihak, termasuk Kementerian Agama, Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan ormas Islam lainnya.
Penetapan ini juga sejalan dengan keputusan Muhammadiyah, yang menetapkan Idul Fitri pada tanggal yang sama. Dengan demikian, mayoritas umat Islam di Indonesia akan merayakan Idul Fitri secara serentak pada 31 Maret 2025.




