
Ia juga menegaskan pentingnya menjadikan nilai-nilai kearifan lokal Aceh sebagai landasan pendidikan. Filosofi Aneuk Talindong, Agama Tapeukong mengajarkan pentingnya menciptakan ruang belajar yang aman dan berkarakter. Sementara Aneuk Meutuah, Beucarong, Beumeusyuhu menjadi cita-cita dalam melahirkan generasi yang patuh, cerdas, dan mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakat.
Dalam arahannya, Muhammad Johan menyampaikan tiga pesan utama kepada pengurus MGMP yang baru dilantik.
Pertama, menjadi pelopor metode pembelajaran yang berpihak pada murid. Guru didorong bertransformasi dari metode ceramah satu arah menuju pembelajaran aktif, inkuiri, dan berdiferensiasi. Asesmen formatif diharapkan menjadi kompas dalam memandu proses belajar, sehingga setiap siswa—baik di Pirak, Sawang, maupun Lhoksukon—mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna dan setara.
Kedua, mengokohkan karakter di tengah tuntutan daya saing global. Daya saing sejati lahir dari keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan akhlak mulia. Nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal Aceh perlu diintegrasikan dalam setiap proses pembelajaran agar siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berakhlak, bersyukur, mampu bergotong royong, dan menjaga martabat sebagai putra-putri Aceh.




