“Mangrove bisa menjadi pusat ekowisata, edukasi lingkungan, hingga sumber produk ekonomi kreatif. Jika dikelola secara optimal, ini bisa menjadi lokomotif baru bagi perekonomian Langsa,” ujar Arif penuh optimisme.
Senada dengan Arif, Hanif Murtadha menekankan bahwa sektor mangrove mampu membuka peluang inovasi bagi generasi muda Langsa.
“Kita bisa kembangkan produk turunan dari mangrove, mulai dari kuliner khas hingga kosmetik dan obat herbal. Ini tidak hanya menambah pendapatan daerah, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru,” jelas Hanif, yang dikenal aktif dalam gerakan pemberdayaan pemuda.
Optimalisasi Otsus Aceh dan Butir MoU Helsinki.
Merespons ide-ide yang dilontarkan, Maimul Mahdi menegaskan bahwa di bawah kebijakan Otonomi Khusus (Otsus) Aceh, Langsa memiliki fleksibilitas anggaran yang cukup untuk mengembangkan ekonomi hijau.
“Otsus memberi kita ruang untuk berinovasi. Kami berkomitmen untuk mengalokasikan dana Otsus bagi program pelestarian mangrove dan pengembangan UMKM ramah lingkungan,” tegas Maimul.
Nurzahri menambahkan bahwa butir-butir MoU Helsinki harus menjadi fondasi kebijakan lokal, terutama dalam upaya pembangunan berkelanjutan.
“Kami, pasangan MANDIRI, bertekad menjadikan Langsa sebagai model kota yang harmonis antara ekonomi hijau dan kesejahteraan sosial. Fokus kami adalah pemberdayaan masyarakat pesisir dan pelatihan keterampilan berbasis lingkungan,” jelas Nurzahri.




