Akademisi Universitas Abulyatama (UNAYA) Aceh Besar tersebut mengeritisi perilaku Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, bersama orang-orang terdekatnya (para pembisik?) yang malah pergi ke Abu Dhabi pada Makmeugang, sehingga rakyat miskin pada hari meugang di Aceh terlunta-lunta.
“Pada masa kesultanan dahulu, Raja (Sultan) Aceh sebagai Amirul Mukminin menyembelih lembu atau kerbau untuk kemudian dibagi-bagi kepada rakyat yang kurang mampu. Tanpa diundang rakyat akan datang ke pendopo sultan Aceh untuk mengambil daging yang sudah dijatahi agar ikut merasakan kebahagiaan,” katanya
Menurutnya, kali ini, Gubernur Nova Iriansyah malah pergi menjauh hingga ke Abu Dhabi pada hari sakral. Patut dicurigai itu adalah upaya Gubernur Aceh untuk menghindar dari rakyatnya sendiri, agar tak berderma daging meugang untuk rakyat jelata yang jatuh ke jurang kemiskinan karena salah urus.
Apalagi Rakyat Aceh mendapat status termiskin di Sumatera karena salah urus. Dana Otsus yang melimpah diduga malah dipakai untuk foya-foya alias lambong-lambong kupiah,” katanya. Usman yang mantan aktivis rehab-rekon (2005-2009) itu mempertanyakan kenapa Gubernur Nova bersikap demikian.
“Apakah beliau tak tahu tradisi kesultanan Aceh yang sakral atau justru itu sengaja dilakukan karena ulah pembisik yang hendak menghancurkan reputasi Nova sebagai Amirul Mukminin di Aceh,” tanya Usman.




