Kritik Denny Charter, Angka Kepuasan Terhadap Pemerintah 72 Persen Dinilai Tidak Realistis!

3. Faktor Non-Ekonomi, Kesenjangan Kelas, dan Efek Media.

Tingkat kepercayaan (trust) tidak hanya dipengaruhi oleh ekonomi, tetapi juga transparansi, kompetensi, dan responsivitas pemerintah. Denny mencatat adanya perbedaan persepsi yang tajam antara masyarakat pedesaan dan perkotaan.

Masyarakat pedesaan atau kelas bawah mungkin masih mentolerir karena adanya efek bantuan sosial. Namun, kelompok urban dan kelas menengah jauh lebih kritis terhadap inflasi dan sulitnya mencari kerja. “Ditambah lagi dengan amplifikasi di media sosial, persepsi soal kacaunya situasi saat ini membuat kepuasan objektif publik jauh lebih rendah dari apa yang diklaim,” imbuh Denny.

BACA JUGA...  Pemko Sabang Tidak Akan Pernah Diam Lakukan Upaya Penurunan Angka Stunting

4. Tolok Ukur Historis yang Tidak Bisa Diabaikan.

Denny juga mengajak publik untuk melihat sejarah. Berbeda dengan krisis 1998 di mana kepuasan runtuh total akibat kontraksi ekonomi minus 13 persen, pada periode stabil pasca-reformasi (pertumbuhan 5%), kepuasan historis biasanya fluktuatif di rentang 50-70 persen.

“Jika dikomparasikan dengan negara-negara di Amerika Latin atau Asia Tenggara lainnya, pemerintahan dengan pertumbuhan ekonomi moderat dan segudang tantangan struktural seperti utang dan ketimpangan, jarang sekali bisa mempertahankan approval rating di atas 60 persen dalam waktu lama,” kata Denny.