Sesi ini membahas berbagai pendekatan inovatif dalam pendanaan berbasis komunitas untuk pengurangan risiko bencana, tantangan pembangunan yang memunculkan risiko baru, serta bagaimana para akademisi dan profesional muda dapat berperan sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.
Saena Sabrina dari Yayasan Adaptasi Bencana Indonesia, salah satu pengisi tematik 12, Selasa, (1/10) mengatakan bahwa Inovasi tidak selalu melibatkan teknologi, tetapi lebih kepada cara berpikir kreatif dan solusi baru dalam berbagai aspek kehidupan.
“Pengetahuan lokal juga perlu digabungkan dengan teknologi dan ilmu pengetahuan modern untuk menciptakan solusi yang lebih komprehensif dan efektif dalam mitigasi bencana,” jelas Saena.
Selanjutnya, pada diskusi paralel sesi 2 11.00-12.30 WIB menyoroti pentingnya peran anak dan remaja dalam membangun kesiapsiagaan bencana sejak dini, peran strategis kerja sama lintas batas dalam menghadapi risiko yang saling berhubungan, serta upaya mitigasi bencana di masyarakat pesisir untuk menghadapi potensi ancaman tsunami.
Ida Ngurah dari Plan Indonesia menyampaikan dalam paparannya bahwa ada perbedaan antara child center dengan child engagement. Dimana child center biasanya berbasis kebutuhan, perkembangan dan peran orang dewasa. Sedangkan, child engagement berkaitan dengan partisipasi anak, kolaborasi dan juga pemberdayaan.





