“Ini udah macam polisi, ini pertanyaannya polisi,” jawab Bukhari Ismail melalui pesan WhatsApp saat dikonfirmasi wartawan.
Tak berhenti di situ, Bukhari bahkan menilai pertanyaan tersebut terlalu dalam untuk dijawab, meskipun sejak awal wartawan telah memperkenalkan identitas dan tujuan konfirmasi secara jelas.
“Maaf ini pertanyaannya terlalu dalam, saya aja belum kenal bapak,” tulisnya lagi.
Sikap tertutup tersebut dinilai mencederai prinsip transparansi dan akuntabilitas publik. Sebagai aparatur pemerintah yang mengelola sektor strategis pendapatan daerah, Keuchik semestinya memberikan penjelasan terbuka, bukan justru menghindar dan membangun kesan anti kritik.
Respons yang cenderung mengelak itu kini memunculkan spekulasi liar di tengah masyarakat. Publik menilai, ketertutupan tersebut semakin menguatkan dugaan bahwa sebagian retribusi wisata diduga bocor dan tidak sepenuhnya masuk ke kas PAD Kota Sabang.
Apalagi, dugaan kebocoran itu bukan muncul tanpa dasar. Sebelumnya, Panitia Khusus (Pansus) II DPRK Sabang menemukan langsung indikasi praktik-praktik mencurigakan saat melakukan inspeksi ke Pos Retribusi kawasan wisata Iboih atau Teupin Layeu.
Ketua Tim Pansus II DPRK Sabang, Darmawan, bahkan secara terbuka mengakui adanya kejanggalan dalam angka pendapatan sektor wisata tersebut.




