Ketua IMPKL: JAMAN Aceh Gagal Berfikir Soal Keberadaan KEK ARUN

Selasa, 26 November 2019

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Banda Aceh (MA)- Ketua Ikatan Mahasiswa Pelajar Kota Lhokseumawe (IMPKL) Muhammad Kalvin menilai, keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe tidak ada hubungannya dengan menambah beban kerja Pemerintah Aceh dalam melaksanakan pembangunan.

“Pemerintah Aceh hanya sebagai salah satu dari empat pemegang saham (Konsorsium) di PT. Patriot Nusantara Aceh, di mana perusahaan itu ditunjuk sebagai Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) KEK Arun Lhokseumawe,” kata Kalvin kepada media ini, Selasa 26 November 2019 di Banda Aceh.

Menurut Kalvin, ditunjuknya PT. Patriot Nusantara Aceh sebagai BUPP KEK Arun LHokseumawe, maka pembangunan, pengembangan dan pengelolaan KEK Arun menjadi tanggung jawab perusahaan tersebut.

“Jadi, sangat tidak tepat apabila menjadikan KEK Arun sebagai alasan rendahnya serapan dan realisasi APBA tahun 2019, karena selama tahun 2018-2019, Pemerintah Aceh juga belum melakukan penambahan setoran modal saham di KEK Arun,” ujarnya.

BACA JUGA...  TMMD Kodim 0207/Sml Bangkitkan Semangat Belajar Generasi Penerus

Oleh karena itu, IMPKL menganggap, JAMAN Aceh salah kaprah dan gagal dalam menganalisa persoalan lemahnya penyerapan anggaran oleh pemerintah Aceh, menurutnya lemahnya penyerapan anggaran tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan plot anggaran untuk KEK Arun.

“Saya melihat teman-teman di JAMAN Aceh ada kegagalan cara berfikir sehingga mengaitkan lemahnya penyerapan anggaran dengan KEK Arun, harusnya mereka menganalisa secara mendalam dahulu baru mengeluarkan statment ” ungkapnya.

KEK Arun sangat lah bermanfaat untuk kemajuan Aceh khususnya daerah yang menjadi objek kerja KEK Arun, yaitu Aceh Utara dan Lhoksemuawe. Saya merasa, keberadaan KEK Arun nantinya akan menghidupkan kembali pundi ekonomi di dua kawasan tersebut yang selama ini perputaran ekonominya kian melemah setelah banyaknya industri yang tidak lagi beroperasi di wilayah tersebut.

BACA JUGA...  Dansatgas TMMD Kodim 0207/Sml Mengapresiasi dengan Semangat dan Ketulusan Warga Membantu TNI

“Justru sebenarnya kehadiran KEK Arun akan meningkatkan sektor ekonomi masyarakat di Lhokseumawe dan Aceh Utara, jadi wajib kita dukung bukan malah kita tolak dan kembalikan ke pusat. Saya kira kegagalan berfikir semacam ini jangan dicontoh oleh generasi muda Aceh karena akan berakibat buruk bagi citra Aceh di mata pusat,” tukasnya.

Dengan kehadiran KEK Arun, saya optimis dikemudian hari akan menyerap tenaga kerja lokal yang selama ini menjadi persoalan di Aceh.

“Dengan hadirnya KEK Arun akan menyerap tenaga kerja lokal, persoalan kita selama ini kan minimnya lapangan kerja, nah sekarang kita punya kesempatan untuk menyerap tenaga kerja lokal dengan hadirnya KEK Arun,” katanya.

Memang saat ini 46 persen saham KEK Arun dimiliki pemerintah Aceh, namun tidak menutup kemungkinan bagi Pemerintah Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara untuk menjadi bagian dari pemegang saham di KEK Arun.

BACA JUGA...  Masjid di Tamiangpun Ikuti Prokes

“Dari hasil monitoring dan evaluasi yang telah dilakukan oleh Sekretariat Dewan Nasional KEK tahun 2019 ini, KEK Arun masih merupakan Kawasan strategis nasional yang diharapkan dapat menjadi pendorong pengembangan industri di Aceh,” sebut Kalvin.

Selain itu, ia juga menjelaskan, selama dua tahun terakhir sudah banyak investor yang berkunjung dan melakukan penjajakan untuk membangun industri di KEK Arun. Investor yang datang, umumnya adalah investor di bidang pertambangan, energi dan petrokimia.

Sebelumnya, Jaringan Kemandirian Nasional (JAMAN) Provinsi Aceh, menyurati Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus untuk mencabut status KEK Arun Lhokseumawe.

Adapun alasannya, menurut JAMAN Aceh, keberadaan KEK Arun Lhokseumawe telah menjadi penambahan beban kerja bagi pemerintah Aceh, sehingga menyebabkan kualitas pembangunan dan pelayanan publik tidak berjalan maksimal. (Ahmad Fadil)

Berita Terkait

Pasca 27 Agustus, Isu Bergeser ke Kepercayaan Institusi
PTGMI Aceh Selatan Reorganisasi Kepengurusan, Kuatkan Profesionalisme dan Integritas
PWI dan GAPKI Gelar Workshop di Yogyakarta
Apel Kebangsaan di Bener Meriah; Merawat Persatuan dari Tanoh Gayo
Masyarakat Didorong Jadi Garda Terdepan dalam Jaga Laut
Kelas Berdaya, Mengenalkan Mitigasi Bencana Kepada Siswa SLBN
Ada Apa dengan Taman Budaya Sabang? BPJS Kesehatan Dipertanyakan
Korem 011 Semarakkan HUT ke-81 RI

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 13:47 WIB

Pasca 27 Agustus, Isu Bergeser ke Kepercayaan Institusi

Minggu, 30 Agustus 2026 - 17:09 WIB

PTGMI Aceh Selatan Reorganisasi Kepengurusan, Kuatkan Profesionalisme dan Integritas

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:37 WIB

PWI dan GAPKI Gelar Workshop di Yogyakarta

Rabu, 26 Agustus 2026 - 19:34 WIB

Apel Kebangsaan di Bener Meriah; Merawat Persatuan dari Tanoh Gayo

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:05 WIB

Masyarakat Didorong Jadi Garda Terdepan dalam Jaga Laut

Berita Terbaru

KESEHATAN

Pasca 27 Agustus, Isu Bergeser ke Kepercayaan Institusi

Selasa, 1 Sep 2026 - 13:47 WIB

PEMERINTAHAN

Musriadi: Masa Muda Adalah Waktu Menanam Masa Depan

Senin, 31 Agu 2026 - 22:07 WIB

RAGAM BERITA

Warga Aceh Timur Meriahkan JASERA 2026 Bersama Medco E&P Malaka

Senin, 31 Agu 2026 - 20:59 WIB

NANGGROE

KPEA Soroti Pergeseran Tradisi Pernikahan Aceh

Minggu, 30 Agu 2026 - 23:00 WIB

Saat anggota TNI memadamkan api hutan terbakar.

MILITER

TNI Padamkan Api 

Minggu, 30 Agu 2026 - 22:44 WIB