KETIKA GELAP LEBIH BERBAHAYA DARI BANJIR

Sa'aduddin Djamal. Walikota Banda Aceh; Negara Hadir Ketika Bencana Mencabik Kehidupan.

Pemerintah Kota Banda Aceh bersama PDAM tak hanya menyuplai air, tetapi juga mengajarkan cara mengolah air secara sederhana. Dengan bahan kimia dasar, air dari sumber mana pun bisa diolah hingga layak minum.

Di tengah keterbatasan logistik, pengetahuan menjadi bentuk bantuan yang paling berkelanjutan.

BUKAN SEKADAR SEMBAKO

ILIZA menekankan bahwa bantuan pasca bencana tak bisa berhenti pada sembako. Yang dibutuhkan warga justru alat-alat dasar untuk memulihkan ruang hidup; alat berat, cangkul, sepatu boot, truk, dan perlengkapan kebersihan.

BACA JUGA...  Menteri PU Tinjau Sinkhole di Aceh Tengah

Tanpa alat berat, lumpur yang mengeras mustahil dibersihkan. Tanpa sepatu, lansia dan anak-anak berjalan di air kotor dengan risiko infeksi.

Tanpa akses jalan, rumah-rumah tetap terkunci oleh genangan.

Negara, dalam konteks ini, tidak cukup hadir dengan paket bantuan. Ia harus membuka jalan [secara harfiah dan simbolik].

ANAK-ANAK DAN RUMAH HEALING

BACA JUGA...  Gerakkan Pembersihan Dayah Terdampak Banjir, Ayah Wa: Pendidikan Santri Jadi Prioritas

DI TENGAH puing-puing, suara tawa anak-anak terdengar samar. Pemerintah Kota Banda Aceh mendirikan rumah healing—ruang sederhana tempat anak-anak diajak bermain, membaca buku, menerima susu dan makanan tambahan.

Trauma tidak selalu muncul dalam bentuk tangis. Kadang ia mengendap diam, menunggu waktu untuk muncul. Bermain adalah cara paling sederhana untuk mencegah luka itu membesar.

BACA JUGA...  Tersandung Kredit Ubi Kayu, LembAHtari Lapor ke Kejaksaan

“Anak-anak kita ajak main lagi, baca buku lagi,” kata Iliza.

Di lokasi bencana, pemulihan psikologis sering kalah prioritas dari logistik. Padahal, trauma yang dibiarkan justru menjadi bencana lanjutan.