PENGUNGSIAN DAN PEREMPUAN YANG TERLUPAKAN
DI DPRK, pengungsian manusia dibuka. Masjid dibersihkan. Bantuan datang silih berganti. Namun Iliza menyoroti satu hal yang kerap tak terucap; kebutuhan biologis perempuan.
“Perempuan butuh pakaian dalam, kebutuhan haid, ibu menyusui. Ini sering tidak disampaikan,” ujarnya.
Di lapangan, kebutuhan seperti pembalut, pakaian dalam, dan ruang privasi sering dianggap sekunder. Padahal, bagi perempuan, hal-hal inilah yang menentukan apakah mereka bisa bertahan dengan bermartabat.
Bencana, tanpa perspektif gender, mudah berubah menjadi ketidakadilan berlapis.
RELAWAN DAN NEGARA YANG HADIR
SEKITAR 340 relawan dari Pemerintah Kota Banda Aceh turun langsung ke lapangan. Mereka berkolaborasi dengan mahasiswa, yayasan sosial, DPR RI, dan berbagai elemen masyarakat. Di tengah keterbatasan, kolaborasi menjadi satu-satunya cara bertahan.
“Bantuan tetap harus datang, meskipun mereka tidak tinggal di tenda. Karena mereka sudah tidak punya apa-apa,” kata Iliza.
Pernyataan ini menyentuh inti persoalan kebencanaan di Indonesia; negara sering hadir terlambat, tetapi publik berharap ia hadir sepenuhnya.
GELAP SEBAGAI METAFORA
GELAP di kampung bencana bukan hanya soal lampu yang padam. Ia adalah metafora tentang keterbatasan sistem, lambannya respons, dan rapuhnya perlindungan sosial. Tanpa listrik, tanpa air bersih, tanpa akses jalan, warga bukan hanya kehilangan rumah [mereka kehilangan kendali atas hidupnya].




