Jejak Award di Rantau Field

  • Bagikan

 128 total views,  1 views today

Feature | Syawaluddin

TAMPUR PALOH, begitu sebutannya. Adalah Gampong terpencil dan terisolir diujung Selatan wilayah pedalaman Kabupaten Aceh Timur, Aceh. Memulai babat episode baru dunia pendidikan.

Kita tak menemukan aliran listrik, apalagi jaringan Suter PLN, sama sekali tak pernah dinikmati oleh warga yang mendiami Gampong itu, kurang lebih 100 Kepala Keluarga.

Kehidupan dan pendapatan mereka di sana bercocok tanam, berkebun dan menangkap ikan di sungai, sebab, Gampong Tampur Paloh berada tepat dibibir DAS terusan Lesten, Kabupaten Gayo Lues.

Topograpinya berbukit-bukit, sulit mencari lahan datar di Gampong itu untuk bercocok tanam. Begitupun Tampur punya struktur tanah yang subur dan gembur.

Dibalik topografi yang sulit, sebagai wadah bercocok tanam, tak menyurutkan warga Tampur untuk maju. Toh…hasil Gampong tersebut melimpah.

Tetapi hasil itu tak tahu harus dibawa kemana. Kecuali itu, satu-satunya melalui jalur sungai menuju kota Kualasimpang, dengan jarak tempuh 4 jam saat menuju hilir dan 7,5 jam saat menuju kehulu.

Fragmatis memang, tapi itu harus dilalui penduduk Tampur dan Gampong tetangganya dengan sangat bahagia. Ratusan tahun, susana seperti mereka lalui, untuk menjual hasil bumi, sebagai penopang hidup.

Namun, dibalik kehidupan penduduk Tampur yang sulit dan serba terbatas, Tampur Paloh punya cerita heroik dunia pendidikannya.

Oh…iya, ada yang terlupa. Untuk penerangan, selama ini mereka menggunakan genset—mesin penghasil teggangan listrik frekuensi menengah—untuk menerangi rumah di sana.

Yama Sang Motivator

Mengawali kisah itu, Ali (45) aktifis sosial dan pendidikan, dia dengan beberapa temannya melakukan survey kewilayah Tampur, dekade 2014 silam.

Ali dengan yayasannya—Yayasan Merdeka (Yama)—melihat kondisi pendidikan di Gampong itu, sangat mengenaskan—keterbelakangan dunia pendidikan—jangankan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Dasar (SD) pun mereka tak punya.

“Kami terpanggil untuk membangun peradaban pendidikan disini. Sayang usia didik disini kalau tidak kita bantu, hampir dipastikan 90 persen anak-anak disini buta huruf,” begitu kata Ali dalam bincang singkat pada penulis.

Dengan swadaya masyarakat dan Yama, mereka membangun Ruang Kegiatan Belajar (RKB) berukuran 4×8 meter seadanya.

Ruang itu yang dipakai untuk belajar, SD, SMP dan SMA. Dengan cara seling, sehari untuk SD, sehari untuk SMP dan sehari untuk SMA.

Begitu seterusnya dilakukan Ali dan kawan kawan aktifis, yang cinta pendidikan. Biaya sekolah seluruhnya gratis, kurikulum mereka gunakan copy paste dari kurikulum yang ada.

Mereka bergerak dari keterbatasan, tapi tak menyurutkan semangat mereka untuk berbuat agar dunia pendidikan di Teampur, maju.

Menit, jam, hari, minggu, bulan bahkan tahun mereka lalu, tanpa mengeluh. Yang ada dalam pikiran mereka, bagaimana Tampur tak tertinggal dari penjajahan dunia pendidikan.

Siapapun tamu yang datang diwajibkan untuk mengajari ilmu yang dimilikinya, untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan diluar kurikukum.

Dari puluhan siswa yang belajar, hingga ratusan murid dan siswa tumpah jadi satu disitu. Bisa kita bayangkan, bagaimana mereka bisa belajar optimal. Sampai Ali berpikir, bagaimana ruang belajar dari tak refresentatip bisa menjadi komprehensip bisa dibangun.

Asabat Ali membara, dia dan teman-temannya rapat, membicarakan pengembangan ruang kegiatan belajar di Tampur.

Hasilnya, proposal pembangunan RKB, Pustaka, Kantor Guru dan benerapa katalog buku belajar yang disesuaikan dengan kurikulum.

PEP Lokomotip Pendidikan di Tampur

Tujuan proposal adalah Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) Asset 1 Rantau Field. Ali dan beberapa teman-temannya datang ke kantor Perusahaan Minyak Plat Merah tersebut.

Mereka disambut baik, hingga manajemen Pertamina EP Rantau Field melakukan investigasi ke Tampur.

Hasilnya apa?, manajemen Pertamina tergugah untuk melepaskan jerat dunia pendidikan anak-anak usia sekolah disana.

Upaya Ali dan kawan-kawan tak sia-sia, Pertamina EP Asset 1 Rantau, membantu mereka, untuk membangun RKB, Mobilernya, sampai buku bacaan sesuai kurikulum.

Dimulai pada tahun 2016, Pertamina EP Asset 1 Rantau Field membangun segala  fasilitas yang dibutuhkan.

Ini adalah kerja keras Pertamina EP Asset 1 Rantau Field, diluar wilayah operasionalnya. “Kami bangga pada Pertamina, peduli pada dunia pendidikan, meski diluar wilayah kerjanya,” jelas Ali.

Selama dua tahun, manajemen Pertamina EP Asset 1 Rantau Field membangun RKB, upaya perusahaan melepas belenggu pendidikan diwilayah pedalaman Aceh Timur tersebut.

Kini, Tampur sumringah, menatap cerah dunia pendidikan, dari RKB, Ruang Guru, Kantor dan buku kurikulum pendidikan dipasok Pertamina.

Satu tahun perjalanannya, banyak Siswa SMA yang menamatkan kurikulum belajar di Yama, dan meneruskan pendidikan diperguruan tinggi, di Kota Langsa, Lhokseumawe dan Banda Aceh.

Hingga kini, Yama tetap menjadi mitra dampingan Pertamina EP Rantau Field. Tampur bergeser 360 derjat, sebab kondisi dulu dan sekarang sangat jauh kemajuannya.

Pertama sekali, ditahun 2017 Pertamina merayakan HUT Kemerdekaan RI yang ke 71 di Tampur Paloh, dihadiri oleh Pangkosterad RI pada saat itu dijabat oleh Mayjend Joko Warsito.

Kegiatan itu tidak hanya sebatas Upacara HUT RI saja, tapi juga mengibarkan bendera sepanjang 71 meter di selatan pedalaman Kabupaten Aceh Timur.

Kegiatan itu diliput oleh media lokal dan Jakarta, menjadikan nama Tampur Paloh membahana seantero dunia.

Saat itu juga, banyak petinggi eksekutif dan legislatif berkunjung untuk melihat perubahan dunia pendidikan di Gampong Tampur Paloh, Pucuk DAS Tamiang.

Hingga petinggi Pertamina Pusat mengunjungi wilayah terisolir itu. Mereka tergugah, hasil karya Pertamina EP Asset 1 Rantau Field, menjadi tonggak sejarah, merubah dunia kelam pendidikan menjadi terang di Gampong Tampur Paloh.

Hingga tim Proper berkunjung ke Tampur, untuk memberikan penilaian terhadap kinerja Perusahaan BUMN yang masuk dalam kategori penerima Proper dan Award.

Pertamina EP Asset 1 Rantau Field, merubah paradigma dunia pendidikan di wilayah pedalaman Aceh Timur itu, menjadi maju dan berkembang.

Karya Pertamina EP Asset1 Rantau Field, terbukti, jebolan Yama, sudah ada yang kuliah di USU satu orang, di UNSYIAH satu orang, UNSAM dua orang dan UGM satu orang.

Dan kini, Gampong Tampur Paloh sudah memiliki 10 orang yang mengantongi ijazah Strata-1, dari tamatan berbagai perguruan tinggi di Aceh dan luar Aceh.

“Selayaknya, Pertamina EP Asset 1 Rantau Field, memperoleh penghargaan tertinggi dari Pemerintah, sebab hasil kerja nyatanya sangat dirasakan oleh warga yang ada di Tampur Paloh,” jelas Ali.

CSR Penggembleng UMKM Tuai ICA Award

Tidak hanya itu Pertamina EP Asset 1 Rantau Field juga melakuka  pembinaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di ring 1 wilayah operasional yang dipusatkan di Pusat Pemberdayaan Masyarakat Pertamina (PPMP) melalui Corporate Social Responsibility (CSR).

Pertamina EP Asset 1 Rantau Field dengan CSR-nya lakukan pengembangan dalam meningkatkan ekonomi rakyat, diantaranya; Pengembangan Budidaya Jarum Merang, Ternak Lele (sampai pengolahan menjadi makanan), Craft, Kerajinan Tangan Limbah Sawit, serta Galeri Art hasil karya binaan Pertamina EP Asset 1 Rantau Field.

Produk PPMP sudah banyak menghasilkan mitra mandiri—sudah mapan—yang kini sudah berdiri sendiri.

Itu semua berkat tenaga-tenaga terampil yang mengajari mereka di PPMP. Kini manfaatnya sudah dirasakan oleh mitra binaan PPMP Pertamina EP Asset 1 Rantau Field.

Budidaya Ikan Lele, di Kampung Tanah Berongga, kecamatan Karang Baru. Pengolahan Limbah Sawit menjadi produk bermanfaat, di Kampung Paya Bedi, Kecamatan Kota Kualasimpang.

Lalu ada Usaha Pengembangan Jamur Merang, di Kampung Komplek Pertamina, kecamatan Rantau.

Banyak keberhasilan program CSR Pertamina EP Asset 1 Rantau Field sudah dapat dinikmati.

Membawa Pertamina EP Asset 1 Rantau Field didapuk memperoleh penghargaan tingkat Platinum ICA Award, untuk program Sikula Aneuek Nanggroe.

Ajang Indonesia Corporate Social Responsibility (CSR) Award (ICA), menganugerahkan Peringkat Platinum kepada PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) Asset 1 Rantau Field.

Anugrah Peringkat Platinum itu, diberikan ICA, atas keberhasilan Pertamina EP Rantau Field dalam kategori Communication Involvement and Development (CID) pada Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat di bidang Keterpencilan untuk Program Siekula Aneuk Nanggroe “Magnet Edukasi di Kawasan 3T”

Demikian dikatakan Legal and Relation Assistent Manager Pertamina EP Rantau Field, Fandy Prabudi kepada atjehdaily.id, Kamis, 12 November 2020. Di Kualasimpang.

Kata Fandy, meski penganugerahan kali ini melalui zoom meting (virtual) tidak menghalangi kekhidmatan acara yang diselenggarakan oleh Corporate Forum for Community Development (CFCD) tersebut.

“Diraihnya penghargaan ini merupakan bukti bahwa Pertamina EP Rantau Field berkomitmen dalam mengoptimalkan pendidikan yang ada di wilayah Aceh,” Jelas Fandy.

Kata Fandy; Totok Parafianto selaku Field Manager Pertamina EP Rantau Field mengucapkan rasa syukur dan mengungkapkan rasa bangganya atas diraihnya platinum pada pagelaran Indonesia CSR Awards ini.

“Menjadi suatu kehormatan bagi kami atas pencapaian ini, hal ini selaras dengan komitmen perusahaan untuk mendorong masyarakat agar berkembang dengan potensi yang dimiliki demi mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan,” ucap Fandy, menyaru pernyataan Totok.

Harapannya Indonesia CSR Awards ini bisa diraih di tahun tahun berikutnya, dan program CSR yang diimplementasikan bisa meluas dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Padmamitra Awards dari Kemensos RI

Tidak hanya ICA Award yang diraih, gelar Padmamitra Award dari Kementerian Sosial Republik Indonesia diperoleh.

Dua gelar sekaligus diterima Pertamina EP Asset 1 Rantau Field, karena keberhasilannya membawa perubahan dalam tatanan masyarakat.

Padmamitra itu diperoleh atas kontribusi dan dedikasinya membangun pilar-pilar sosial didalam maupun diluar lingkaran ring satu wilayah produksi perusahaan plat merah tersebut.

Demikian disampai Legal and Relation Assistant Manager, Pertamina EP Rantau. Fandy Prabudi pada atjehdaily.id, Rabu, 18 November 2020.

Padmamitra Award itu, didapat Pertama EP Rantau, atas keberhasilannya membangun dan mengembangkan Program Gampong Berdaya Tampur Paloh.

Keberhasilan itu membawa PT Pertamina EP Asset 1 Rantau Field menyabet penghargaan Padmamitra Awards dari Kementerian Sosia.

Penghargaan diberikan langsung oleh Menteri Sosial, Juliari P. Batubara kepada Hermansyah Y. Nasroen, Public Relations Manager Pertamina EP, pada malam penghargaan Padmamitra Awards di Hotel Mercure, Jakarta, Selasa, 17 November 2020.

“Selamat atas kontribusi dan dedikasinya kepada para badan usaha maupun individu yang telah terbukti satu tahun ini benar – benar konkrit dalam menjalankan program yang bermanfaat bagi saudara – saudara kita”, kata Ari sapaan akrab Mensos pada sambutannya seperti dikutip Fandy.

Tentunya sumbangsih itu dicatat bersama sebagai bentuk sinergitas seluruh pihak untuk memciptakan pilar – pilar social yang berkesinambungan.

Banyak keterbatasan yang dimiliki pemerintah untuk menjangkau seluruh masyarakat di Tanah Air dengan kebutuhan yang beragam, Maka dari itu, bantuan dari perusahaan, lembaga social lainnya sangat diapresiasi.

Kata Fandy, Ini merupakan kali pertama Rantau Field mendapatkan penghargaan langsung dari Kementrian Sosial RI dengan skala nasional atas pengelolaan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang bertujuan peningkatan kesejahteraan social.

Setidaknya ada lima program yang diikutsertakan dalam tiga kategori Padmamitra Awards, Kemiskinan, Ketelantaran dan Keterpencilan.

Program Gampong Berdaya Tampur Paloh sendiri mendapatkan penghargaan pada kategori Keterpencilan. Dari total 124 perusahaan yang mengikuti tahapan mulai seleksi administrasi, presentasi dan wawancara, tersisa 15 perusahaan yang mendapatkan penghargaan ini.

Pada pemberian gelar tersebut, dihadiri langsung oleh perwakilan masing – masing perusahaan, dengan mengedepankan protocol kesehatan.

Perhelatan Padmamitra Awards juga disiarkan secara virtual yang disaksikan bersama dengan Tim Manajemen Rantau Field. “Alhamdulillah, lagi kita mendapatkan apresiasi dari pihak pemerintah dalam hal ini Kementrian Sosial RI. Hal ini merupakan bukti dari keseriusan Rantau dalam komitmen menjalankan program pemberdayaannya, pungkas Fandy. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Malu Achh..  silakan izin yang punya webs...