Menurutnya, kondisi tersebut membuat sebagian dari mereka semakin terpuruk karena hingga saat ini belum sepenuhnya merasakan kesejahteraan.
Reki menjelaskan, selama ini sebagian korban konflik masih hidup dalam keterbatasan. Banyak di antara mereka yang belum sepenuhnya pulih dari dampak sosial dan ekonomi akibat konflik masa lalu.
Ketika banjir bandang datang, beban hidup yang mereka rasakan menjadi semakin berat. Tidak sedikit rumah yang kembali rusak, lahan usaha terendam, dan sumber penghidupan terganggu.
Situasi ini membuat mereka harus memulai kembali dari titik yang tidak mudah.
Bagi sebagian warga, banjir bukan sekadar bencana alam yang datang dan pergi. Ia menjadi pukulan berlapis bagi masyarakat yang sebelumnya telah mengalami trauma konflik dan keterbatasan ekonomi.
Reki mengatakan, kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah dalam merancang kebijakan bantuan dan pemulihan pasca bencana.
Menurutnya, program bantuan kemanusiaan maupun pemulihan ekonomi perlu mempertimbangkan kelompok masyarakat yang memiliki kerentanan berlapis, termasuk para korban konflik.
“Selain sebagai korban konflik yang sampai sekarang belum sepenuhnya sejahtera, kini mereka juga menjadi korban banjir. Sudah cukup banyak luka yang mereka rasakan,” ujarnya.
Ia menilai pemerintah memiliki peran penting untuk memastikan tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal dalam proses penanganan bencana.




