BANNER IKLAN

Jangan Coba Jual, “Kami Mampu Membelinya”

  • Bagikan

example banner

 110 total views,  2 views today

example banner

“IPW Telah memvonis hal-hal yang sama sekali tidak kami ketahui, apalagi keterlibatan kami didalam aksi teror yang dilakukan oleh ZA. Ingat, jangan membuat provaganda dan konsfirasi murahan,” tegasnya.

Laporan | Syawaluddin

BANDA ACEH (MA) – Indonesia kembali diviralkan dengan tayangan satu video berdurasi 18.26 detik, beberapa hari lalu. Pada tayangan itu tampak seorang wanita bercadar berinisial ZA, 25 tahun, menggunakan senjata laras pendek lakukan teror ke Markas Besar Polisi Republik Indonesia (Mabes Polri) pekan lalu.

Khairunnisak, Ketua Pasukan Inong Balee Aceh

Indonesian Palice Watch (IPW) mengklaim dan mengindikasikan penyerangan yang dilakukan ZA ke Mabes Polri, mirip dengan cara kerja Pasukan Inong Balee dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dimasa konflik Aceh lalu.

Pernyataan Ketua Presidium IPW, Neta S Pane itu telah mencederai perdamaian di Aceh. Dan membangkitkan heroik Inong Balee dan GAM untuk berbicara.

“Serangan teror ke markas besar Polri atau 150 meter dari ruang kerja Kapolri Sigit adalah show-off forcenya bos teroris untuk menunjukkan bahwa ada fenomena baru dalam aksi teror yang akan mereka mainkan ke depan,” kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane dalam keterangan tertulisnya pada Kamis 1 April 2021.

Neta menyebut sang ‘bos teroris’ saat ini ingin menunjukan kepada publik jika pihaknya memiliki pasukan khusus. Pasukan bernama Inong Balee tersebut seperti pada halnya GAM dihabisi oleh Polri.

“Sama seperti saat pasukan GAM disisir habis oleh Polri dan TNI di era konflik Aceh, mereka mengedepankan pasukan perempuan atau inong balee,” kata Neta.

“Kelompok teroris sepertinya meniru apa yang dilakukan GAM, saat para teroris disisir habis oleh Polri. Kini mereka menurunkan pasukan perempuan Inong Baleh,” sambung Neta.

Pernyataan tegas pun menggelontor dari ucapan Ketua Pasukan Inong Balee Aceh, Khairunnisa; IPW “menuding” Aksi Teror dilakukan oleh Pasukan Inong Balee sayap militer kaum perempuan dari Gerakan Aceh Merdeka.

“Pernyataan ketua Presidium IPW Neta S Pane, itu sudah mencederai perdamaian di Aceh. Apalagi Komite Peralihan Aceh (KPA) bersama pasukan Inong Balee-nya sudah melebur dengan partai lokal, dibawah payung hukum Partai Aceh (PA),” jelas Nisa.

Cerita heroik masa lalu konflik 32 tahun lamanya sudah berakhir, kini saatnya Inong Balee dan GAM membangun peradaban Aceh yang bermartabat dan menjunjung nilai-nilai hiatorinya.

Apalagi Pernyataan IPW, telah mengkaitkan teror di Mabes Polri dengan Gerakan Pasukan Inong Bale GAM. Pernyataan itu tak lebih bagian dari propaganda upaya untuk mendeskreditkan Pasukan Inong Balee dalam kondisi damai.

Yang harus IPW ingat, jangan pernah menyamakan Militansi Pasukan Inong Bale, dengan aksi teror yang dilakukan wanita bercadar ZA dengan pasukan Inong Balee Aceh.

“Kita menduga ada muatan lain diskenariokan IPW, dengan menunjukan persamaan Aksi Teror yang identik dilakukan GAM, seakan-akan Neta menyimpulkan bahwa itu merupakan bahagian dari pasukan khusus GAM yang melakukan aksi teror!,” Kata Nisa berang.

Eks Sayap militer GAM kaum wanita—Pasukan Inong Bale Gerakan Aceh Merdeka—mempertanyakan maksud pernytaan Neta, jangan mengundang kericuhan dan situasi damai di Aceh.

Selayaknya, sebagai pengamat, Pasukan Inong Balee GAM menilai; IPW tidak profesional dan cenderung memiliki agenda-agenda lain yang ingin memperkeruh suasa damai Aceh.

Nisa minta, Neta S Pane, harus mengklarifikasi pernyataannya kepada media di Jakarta beberapa hari lalu, sebab, itu sudah mencederai bangsa Aceh yang sudah mengecap perdamaian.

“Saya minta, Neta S Pane, jangan pernah menyamakan setiap teror gerakan yang dilakukan orang, lalu menyamakan dengan Inong Balee atau GAM. Kami terorganisir dibawah bendera PA, kami perang dengan politik, bukan bedil,” tegasnya.

Inong Balee Aceh, mengecam keras pihak manapun yang menduga-duga atau menyamakan dengan teroris. Kecuali itu, IPW harus meminta maaf secara terbuka melalui media dan menyurati Inong Balee Aceh, berisikan perminta maaf-an ketua Presidium IPW.

Jika itu tidak dilakukan IPW, Inong Balee Aceh, akan menempuh jalur hukum, sebab telah melakukan pencemaran nama baik organisasi Inong Balee Aceh.

“IPW Telah memvonis hal-hal yang sama sekali tidak kami ketahui, apalagi keterlibatan kami didalam aksi teror yang dilakukan oleh ZA. Ingat, jangan membuat provaganda dan konsfirasi murahan,” tegasnya.

Inong Balee Aceh, bukan organisasi pengecut. “Jangan coba-coba jual, kami mampu membeli, perempuan Aceh kaya dengan semangat juang yang herioik, ingat itu,”.

# Mabes Benarkan Pelaku Teror Wanita

Mabes Polri membenarkan identitas pelaku teror merupakan seorang perempuan. Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo menjelaskan pelaku dengan jenis kelamin wanita ini masuk dari pintu belakang dan berjalan menuju pos gerbang utama yang ada di Mabes Polri.

Setibanya di halaman depan, pelaku melakukan penyerangan terhadap anggota yang sedang bertugas di pos jaga pintu utama gedung Mabes Polri.

Listyo menjelaskan pelaku menembak sebanyak enam kali. Dua kali tembakan tertuju ke anggota yang ada di dalam pos, dua kali mengarah di luar dan kepada anggota yang ada di belakangnya.

“Kita telah lakukan tindakan tegas terukur terhadap pelaku teror yang mencoba melakukan aksi di Mabes Polri,” ujar Listyo.

Listyo menambahkan hasil olah TKP, ditemukan identitas pelaku berinisial ZA (25) dengan alamat di Jalan Lapangan Tembak, Ciracas, Jakarta Timur.

Menurut Listyo pelaku terpapar idiologi radikal ISIS yang dibuktikan dengan sejumlah unggahan pelaku di media sosial.

“Tersangka ini mantan Mahasiswa di salah satu kampus dan drop out di semester 5,” ujar Listyo.

Polisi telah mengevakuasi jenazah pelaku teror Mabes Polri ke RS Polri Kramat Jati. Pelaku tewas di tempat setelah mendapat tindakan tegas terukur oleh petugas.

Polri telah melakukan pengeledahan di rumah pelaku dan mendatangkan orang tua tersangka teroris ke RS Polri untuk mengkonfirmasi identitas pelaku.

# Tayangan CCTV

Pada Rabu, 31 Maret 2021 sore, masyarakat digembarkan dengan aksi penyerangan seorang bersenjata di Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri), Jakarat Selatan.

Dari rekaman CCTV yang disiarkan Kompas TV terlihat seorang perempuan yang menggunakan kerudung biru panjang dan baju gamis hitam mengacungkan senjata.

Setelah beberapa kali melepaskan tembakan, sang pelaku penyerangan akhirnya berhasil dilumpuhkan dengan timah panas polisi. Ia tewas di tempat.

Setelah polisi mengadakan pemeriksaan, diketahui bahwa pelaku penyerangan tersebut adalah seorang perempuan bernama Zakiah Aini (25). Ia tinggal di kawasan Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur.

#Sekilas Profil Zakiah Aini

Hasil penyelidikan sementara dari pihak kepolisian menemukan bahwa Zakiah adalah simpatisan ISIS yang melaksanakan aksi seorang diri (lone wolf).

Zakiah diketahui berideologi ISIS dari unggahan di akun Instagramnya yang baru ia buat sehari sebelum beraksi di Mabes Polri.

Dalam akun tersebut, Zakiah mengunggah foto bendera ISIS dan tulisan mengenai jihad.

“Yang bersangkutan ini adalah tersangka atau pelaku lone wolf beridiologi ISIS. Terbukti dari postingannya di sosial media,” ujar Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo saat jumpa pers di Mabes Polri Rabu malam.

Dari hasil temuan Kompas.com di kediaman Zakiah diketahui bahwa pelaku tinggal di sebuah rumah di Kelapa Dua Wetan bersama orangtua dan kakak-kakaknya.

Dalam kesehariannya, Zakiah banyak menghabiskan waktu di dalam rumah.
“(Zakiah) tidak berinteraksi dengan warga sekitar,” ujar Lurah Kelapa Dua Wetan, Sandy Adamsyah, Rabu malam.
Peran terorisme perempuan dalam jaringan ISIS.

Secara umum, penyerangan-penyerangan yang dilakukan oleh jaringan terorisme banyak mengandalkan ‘pejuang’ pria.

Perempuan yang tergabung dalam organisasi teror biasanya melakukan tugas-tugas pendukung, seperti menyediakan makanan dan memberikan pengobatan kepada ‘pejuang’ yang terluka.

Namun, pola ini bergeser belakangan, terutama dalam jaringan teror ISIS.
Alih-alih bertugas sebagai support system, anggota perempuan juga menjadi martir dalam aksi-aksi teror, seperti tertulis dalam buku Tackling Terrorists’ Exploitation of Youth karya Jessica Trisko Darden pada 2019.

“Wanita dan anak-anak perempuan merupakan mayoritas pelaku bom bunuh diri Boko Haram, dan kira-kira seperlima dari mereka adalah anak kecil,” tulis buku tersebut.

Boko Haram adalah salah satu grup militan terbesar di Afrika yang bermarkas di Nigeria. Karena kedekatannya dengan ISIS, Boko Haram juga disebut Negara Islam Provinsi Afrika Barat.

Lebih lanjut, buku tersebut menjelaskan bahwa ISIS sengaja merekrut perempuan berusia 18 hingga 25 tahun untuk menjadi bagian dari sebuah unit yang dikenal dengan istilah ‘Brigade Al-Khansaa’. “Unit ini menggunakan kekerasan dan intimidasi untuk menerapkan hukum syariah”. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *