RANTAU PERAPAT (MA) – Sejak tahun 1971 warga di desa Tanjung Mangedar, Kecamatan Kuala Hilir (Kualuh), Kabupaten Labuhan Batu Utara (Labura) Provinsi Sumatera Utara. Tidak pernah menikmati aspal hingga saat ini.
Padahal komoditinya luar biasa melimpah seperti Padi, Kopra, Kelapa dan Perikanan. Income perkapita di desa Tanjung Mangedar bisa dikatakan sejahtera dan banyak menyumbangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi kabupaten Labura.
“Kita swasembada pangan tiap panennya, mencapai 50% dari hasil Gabah Kering pada setiap tahunnya. Tetapi kami seperti di anak tirikan, tak terperhatikan,” jelas Purnomo tokoh masyarakat Desa Tanjung Mangedar.
Dilansir mediaaceh.co.id, Purnomo mengatakan, jika hujan dua jam saja komoditi hasil buminya tidak bisa dibawa keluar dari desa tersebut, sebab jalan yang akan dilalui berlumpur, sulit untuk dilalui kendaraan roda dua dan truck.
Kecuali itu, kata Purnomo; Jetor yang dirubah pungsi dari alat untuk membajak sawah dijadikan sebagai alat angkutan yang terbilang aman dan mampu membawa hasil bumi keluar dari desa menuju ibukota kecamatan.
“Kita sangat kesulitan membawa hasil bumi keluar, inilah hambatan yang kami rasakan, dari tahun 1971 hingga saat ini. Kami butuh sarana dan prasarana yang memadai untuk sarana penghubung. Pemda Kabupaten Labura harus perhatikan kondisi kami, sangat memprihatinkan jika musim penghujan tiba kami seperti terisolir,” jelas.




