Akibat ini Aceh Tamiang akan terus mengalami banjir setiap hujan deras di Hulu dikarenakan air tertahan atau tidak mengalir.
“Ada tiga Sedimentasi yang terjadi. Dan ini mempengaruhi arus air ketika terjadi hujan di Hulu. Sedimentasi juga mempengaruhi pola pasang surut air laut,” tegas Direktur Eksekutif Lembaga Bina Arsitektur Madani (Le’BAM) Zulkanain ST, di Muara Kuala Genting Kecamatan Bendahara, Minggu pekan lalu.
Pernyataan Zulkarnain tersebut merupakan bagian dari ‘Tim Bersama’ kepedulian yang dilakukan untuk penyelamatan Sungai Tamiang dan kepedulian banjir yang sering di alami masyarakat Aceh Tamiang.
‘Tim Bersama’ itu terdiri dari Lembaga Bina Arsitektur Madani (Le’BAM), Lembaga Advokasi Hutan Lestari (LembAHtari) Forum Corporate Social Responsibility (FCSR), Yayasan Satu Cinta Lestari Indonesia (YSCLI) serta perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)Sekolah Tinggi Agama Islam Aceh Tamiang (STAIT-AT), BPBD Aceh Tamiang melalui Kabid Rehab Rekon BPBD serta Disparpora Aceh Tamiang melalui Kabid Pariwisata.
“Sedimentasi itu terjadi semenjak banjir tahun 2006. Kita sudah lakukan pengamatan semenjak banjir tahun 2009. Ini harus segera dilakukan pengerukan, kalau tidak dilakukan maka kerugian masyarakat akan terus dialami setiap hujan deras di Hulu Tamiang,” sebutnya.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya














