Meski dikenal santun dan mudah bergaul, Iboy bukan tipe pemimpin yang hanya bisa tersenyum. Ia juga tegas dalam prinsip.
Saat ada keputusan yang menyangkut kepentingan umum, ia berani menyuarakan kebenaran meski tak populer.
“Pemimpin itu bukan hanya didengar saat kampanye, tapi harus tetap ada saat rakyat susah,” katanya suatu sore di meunasah kampung.
“Iboy itu sederhana, tapi tegas. Ia tahu kapan harus mendengar, kapan harus bertindak. Dan yang paling penting [ia tidak lupa dari mana ia berasal].”
[Ucapan seorang tokoh perempuan Kuala Penaga, Wak Riah].
Kisah Iboy adalah cerita tentang anak kampung yang kembali untuk membangun kampungnya sendiri.
Dari jalan-jalan berlumpur hingga jembatan yang ia impikan, semua berawal dari satu tekad: menjadikan Kuala Penaga rumah yang lebih layak bagi semua.
November 2025 akan menjadi ujian pertama baginya. Namun bagi warga Kuala Penaga, Iboy sudah lebih dari sekadar calon pemimpin [ia adalah harapan baru, cermin dari perjuangan yang tumbuh dari tanah sendiri].
“Saya tidak berjanji banyak,” katanya di akhir wawancara, “tapi saya akan bekerja sekuat tenaga agar kampung ini tidak lagi hanya dikenal karena potensi, tapi karena kemajuannya.” [].




