Puncak kemeriahan ditandai dengan Festival Kesenian Tradisional Aceh Rapai, yang menampilkan tujuh grup terbaik dari berbagai kecamatan di Bireuen, antara lain Peusangan, Pandrah, Gandapura, Kutablang, Jangka, Juli, dan Peusangan Selatan.
Panitia pelaksana kegiatan, Syech Mulyadi bersama Fauzan, S.Pd., M.M., menjelaskan bahwa pelestarian kesenian dan kebudayaan tradisional, seperti Rapai, merupakan bentuk penghormatan terhadap jati diri dan identitas budaya masyarakat Aceh.
“Rapai adalah salah satu identitas budaya Aceh yang kaya dan harus terus diwariskan serta dilestarikan kepada anak cucu bangsa,” ujar Syech Mulyadi kepada sejumlah awak media di sela-sela kegiatan.
Selain pertunjukan Rapai, panggung seni juga menampilkan Tari Kreasi, Tari Garapan Baru, Tari Ratoeh Jaroe, dan Tari Seudati, yang menggambarkan kekayaan seni pertunjukan khas Aceh sarat nilai-nilai kearifan lokal.
Pentas Apresiasi Kesenian dan Kebudayaan ini menjadi penutup rangkaian hiburan rakyat dalam perayaan HUT ke-26 Kabupaten Bireuen. Melalui kegiatan ini, masyarakat menunjukkan semangat untuk terus menjaga, melestarikan, dan menghidupkan nilai-nilai kesenian serta kebudayaan daerah Aceh — tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional dan internasional.(Iqbal)
Halaman : 1 2















