GATA Peringati 144 Tahun Kesultanan Aceh Pukul Mundur Belanda 

Sabtu, 15 April 2017

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Banda Aceh | AP – Gabungan Komunitas Aceh  (GATA) adakan  peringati 144 Tahun (14 April 1873-14 April 2017) kemenangan Kesultanan  Aceh Darussalam melawan Kerajaan Belanda. Acara itu berlangsung di Mesjid Baiturrahim Ulee Lheue, Banda Aceh, Sabtu 15 April 2017.

Konsorsium GATA (Gabungan Komunitas Aceh)  adalah Konsorsium gabungan beberapa organisasi yang peduli tentang Sejarah dan Budaya Aceh. Acara yang pertama dilaksanakan adalah tanggal 10 Agustus 2016 Peringatan 477 Tahun Hubungan Aceh Turki yang dilaksanakan di Bitai dengan ketua panitia Prof. Teuku Farhan sedangkan acara kedua adalah Hubungan Aceh-Arab yang dilaksanakan 7 Maret 2017 yang berlokasi di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh yang menjadi ketua panitia adalah Ustad Irhamullah.

Sedangkan acara ketiga yang dilaksanakan adalah hubungan dengan Belanda berbeda dengan dua hubungan sebelumnya yakni persahabatan antar dua kerajaan, maka acara ketiga adalah peringatan hubungan perang antar dua kerajaan.

BACA JUGA...  Lapas Narkotika Pematang Siantar Panen Raya Sayur Pakcoy Hasil Budidaya WBP

Peringatan 144 Tahun (14 April 1873-14 April 2017) Kemenangan Kesultanan Aceh melawan Kerajaan Belanda yang akan dilaksanakan pada tanggal 15 April 2017 di Mesjid Baitunahim Uleelheu Banda Aceh yang menjadi ketua Panitia dalam pelaksanaan acara ini adalah Mawardi Usman.

Dalam sejarahnya, Kerajaan Aceh memiliki kedudukan yang sangat terkenal sebagai pusat perdagangan. Aceh banyak sekali menghasilkan lada, tambang serta hasil hutan, sehingga Belanda ingin menduduki kerajaaan Aceh serta menguasainya. Orang-orang Aceh tetap ingin mempertahankan kedaulatannya walaupun Belanda ingin menguasainya. Tahun 1871, Aceh masih sebagai kerajaan yang merdeka telapi mulai berubah dengan adanya Traktrat Sumatra (yang ditandatangani lnggris dengan Belanda pada tanggal 2 November 1871).

Isi dari Traktrat Sumatra 1871 itu adalah pemberian kebebasan bagi Belanda untuk memperluas daerah kekuasaan di Sumatra, termasuk Aceh. Dengan demikian, Traktrat Sumatra 1871 merupakan ancaman untuk Aceh. Karena itu Aceh berusaha untuk memperkuat diri, Mengadakan hubungan dengan Turki, Konsul Italia, bahkan dengan Konsul Amerika Serikat di Singapura.

BACA JUGA...  Jenazah Bayi Bocor Jantung Asal Ladong Tiba di Rumah Duka

Tindakan Aceh ini sangat mengkhawatirkan  pihak Belanda karena Belanda tidak ingin adanya campur tangan dari luar. Belanda memberikan ultimatum, namun Aceh tidak menghiraukannya . Pada tanggal 26 Maret 1873, Belanda melakukan perang frontal kepada Aceh, Perang Aceh adalah perang Kesultanan Aceh melawan Kerajaan Belanda. Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda mengultimatum dan melakukan perang secara resmi kepada Aceh, dan mulai menggunakan tembakan meriam ke daratan Aceh dan kapal perang Citadel van Antwerpen. Pada tanggal 8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen Uleelheu di bawah pimpinan Jenderal Kohler.

Jendral Kohler saat itu membawa 3.198 tentara. Sebanyak 168 di antaranya para perwira. Pihak Aceh dipimpin oleh Panglima Polem dan Sultan Mahmud Syah melawan Belanda yang dipimpin Jendral Kohler. Belanda berkali-kali menyerang Mesjid Raya Baiturrahman untuk menguasainya Hingga Mesjid Raya Baiturrahman terbakar. Pihak Aceh kian bertambah marah dan benci kepada belanda. Pada tanggal 14 April 1873 setelah menguasai Mesjid Raya Baiturrahman yang terbakar, Jenderal Kohler meneropong ke arah lstana Sultan saat itulah sebuah peluru mengenai dadanya dan kohler tewas ditempat. Yang menembak dari jauh adalah Teuku Nyak Raja Lueng Bata Panglima Dalam Istana Kesultanan Aceh.

BACA JUGA...  Ikawapi Lakukan Kerjasama Dengan Malaysia

Gugurya pimpinan mereka membuat Belanda mengundurkan diri dengan tergesa-gesa naik ke kapal dan kembali kc Batavia dengan kalab dan memalukan. Koran dan Majalah didunia masa itu mengabarkan untuk pertama kalinya  imperialisme Barat kalah, dengan menyebut lawan Belanda yakni Bangsa Aceh sebagai kaum pernberani dari Utara.

Acara tersebut terbuka untuk umum dengan agenda acara samadiyah,  kata sambutan dari keturunan Sultan terakhir Aceh, pembacaan Hikayat oleh Muammar Al Farisi, kupasan sejarah oleh Dr. Kamal Arif serta tausiyah  oleh ustad Amir Hamzah. (Arifin)

Berita Terkait

Cot Ba’u Didorong Jadi Destinasi Wisata Budaya
Anggota Polri Ditemukan Meninggal di Aceh Barat 
Eks GAM Denmark: Pemerintah Harus Tuntaskan Butir MoU Helsinki 
Muhammad Saleh: Pak Presiden Prabowo Evaluasi Pejabat di Aceh 
Pernyataan JK soal Kericuhan Aceh Dibantah, Faisal: Masyarakat Kecewa MoU Tak Tuntas
Pemkab Aceh Barat Bantu Proses Pemulangan Korban Scam Kamboja
Koperasi Merah Putih Disorot, Panitia Beri Klarifikasi Soal Jadwal dan Honor
Mengaku Abang Samalanga, Penipu Manipulasi Bukti Transfer dan Catut Nama Ketua DPR Aceh

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 22:38 WIB

Cot Ba’u Didorong Jadi Destinasi Wisata Budaya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 21:48 WIB

Anggota Polri Ditemukan Meninggal di Aceh Barat 

Selasa, 18 Agustus 2026 - 16:03 WIB

Eks GAM Denmark: Pemerintah Harus Tuntaskan Butir MoU Helsinki 

Senin, 17 Agustus 2026 - 15:17 WIB

Muhammad Saleh: Pak Presiden Prabowo Evaluasi Pejabat di Aceh 

Senin, 17 Agustus 2026 - 01:42 WIB

Pernyataan JK soal Kericuhan Aceh Dibantah, Faisal: Masyarakat Kecewa MoU Tak Tuntas

Berita Terbaru

POLITIK

Intelijen Aceh Waspadai Aksi Desember 2026

Selasa, 25 Agu 2026 - 16:16 WIB

Nelayan Pesisir Asel  Deklarasikan Penjagaan Laut.(Foto/mediaaceh.co.id/istimewa).

LINTAS BARAT - SELATAN

Masyarakat Didorong Jadi Garda Terdepan dalam Jaga Laut

Selasa, 25 Agu 2026 - 10:05 WIB

PEMERINTAHAN

Kurdi Jadi Sekda Aceh Barat 

Senin, 24 Agu 2026 - 20:45 WIB

PENDIDIKAN

Wisuda 1.001 Lulusan, UNISAI Targetkan Akreditasi Unggul

Senin, 24 Agu 2026 - 20:31 WIB