Disdik Lhokseumawe Keluhkan Kenakalan Remaja Kian Meresahkan

Kadis Pendidikan Lhokseumawe Haris bersama Kapolres AKBP Henki Ismanto, SIK.

LHOKSEUMAWE (MA) Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Lhokseumawe Haris bersama pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Lhokseumawe lakukan pertemuan dengan Kapolres Lhokseumawe AKBP Henki Ismanto, SIK di cafe Kecamatan Muara Dua, Senin, (20/2/23).

Pertemuan Kadisdik, PGRI, dan Kapolres Lhokseumawe membahas tentang persoalan kenakalan remaja yang kian meresahkan masyarakat.

Kadisdik Lhokseumawe Haris mengatakan para guru dan pihak Disdik Kota Lhokseumawe merasa khawatir dengan situasi dan kondisi eskalasi kekerasan remaja atau pelajar yang cenderung meningkat.

Apalagi pasca viral nya kasus kelompok remaja atau pelajar menjadi begal menyerang korbannya dengan senjata tajam di kawasan Kecamatan Banda Sakti sepekan lalu.

Sehingga dengan meningkatnya kasus kekerasan dengan pelaku dan korbannya yang masih dibawah umur. Maka para pendidik pun curhat dan ingin menumpahkan kesedihan yang dibebani masalah kenakalan remaja tersebut.

Haris mengaku selama ini pihaknya sudah melakukan berbagai usaha dan upaya untuk mengantisipasi aksi kenakalan remaja dengan cara memaksimalkan peraturan di sekolah.

BACA JUGA...  Tingkatkan Mutu Siswa SMK, Disdik Aceh Jalin Kerjasama Dengan Innovam Belanda

Akan tetapi upaya yang telah dilakukan ternyata sama sekali tidak membuahkan hasil yang sesuai harapan.

Karena para remaja terpengaruh dengan konten aksi kenakalan remaja yang suka tawuran yang beredar di media sosial.

Bahkan para pelajar meniru perbuatan tidak terpuji, karena tontonan aksi tawuran dan begal sudah menjadi trend dikalangan pelajar.

Kondisi itu membuat pihak Disdik dan para guru kewalahan menghadapi persoalan kenalan remaja yang tidak terkendali.

Sehingga dunia pendidikan pun terpaksa meminta Kapolres turun tangan untuk membantu pihak sekolah mengatasi kenalan remaja agar tidak merajalela.

“Di mana, saat ini sudah menjadi trend di kalangan remaja berupa tawuran, kami dari pihak sekolah sangat mengharapkan bantuan dari pihak kepolisian terutama dari tim URC. Kalau patroli singgah lah ke sekolah-sekolah walaupun sebentar agar anak – anak takut, ada patroli polisi dan kami juga meminta jika bisa diberlakukan lagi pembatasan waktu seperti PPKM khusus bagi anak-anak sekolah,” ujarnya.

BACA JUGA...  Museum Tsunami Raih Nominator Museum Populer

Hal serupa juga dipaparkan oleh sejumlah guru perwakilan PGRI, yang kewalahan dengan timbulnya berbagai persoalan yang dihadapi di sekolah berpuncak dari kenakalan remaja.

Bahkan sebagian besar remaja yang bermasalah dilatarbelakangi oleh kehidupan dalam keluarganya, seperti adanya pengaruh buruk dari sebagian orang tua pelajar yang terlibat Narkoba berefek buruk kepada si anak.

Menanggapi curhatan tersebut, Kapolres Lhokseumawe AKBP Hengki Ismanto mengajak semua unsur pemangku jabatan di lingkungan dunia pendidikan agar sama – sama memikirkan hal itu dan bersama-sama mencari solusi terbaiknya.

Kapolres menegaskan dalam waktu dekat ini, akan mengerahkan polisi untuk terjun ke dunia pendidikan sekolah. Nantinya kepolisian akan menjadi Irup di sekolah – sekolah supaya bisa langsung menyampaikan pesan Kamtibmas kepada para siswa agar tidak meniru perbuatan buruk dan tidak terpuji.

BACA JUGA...  Kemenag RI Dukung Transformasi IAIN Langsa Menjadi UIN

“Selanjutnya bisa duduk bersama pihak sekolah untuk mencari solusi, ini bentuk tindak lanjut dari Polres Lhokseumawe sebagai badan hukum untuk memberikan edukasi tentang penyebab terjadinya tindakan kekerasan yang dilakukan kalangan remaja,” jelasnya.

AKBP Henki Ismanto menjelaskan, setidaknya sekolah menjadi jembatan untuk menyampaikan perlunya pendidikan dari rumah sebagai pilar utama terbentuknya karakter pada setiap anak.

Maka menanggapi curhat para guru, tentunya mulai hari ini polisi akan diterjunkan untuk memberi pembinaan terhadap remaja yang sudah tidak mampu dibina lagi oleh pihak sekolah.

“Deteksi siswa-siswa yang sudah tidak bisa lagi dibina dan akan kami kirim polwan maupun polki (polisi laki – laki) untuk pembinaan siswa-siswa tersebut,” tegasnya. (Mulyadi).