Kemenangan ini membawanya untuk mewakili Aceh di tingkat nasional di Jakarta.
Namun, di balik prestasi gemilang itu, H. Musannif melihat kesedihan yang tersimpan di mata Naila.
Gadis kecil ini, meski berprestasi, tidak mendapatkan sokongan beasiswa dari manapun, termasuk pemerintah Aceh.
H. Musannif merasa terpukul melihat kenyataan ini.
“Kamu sangat berbakat, Naila. Apa yang kamu butuhkan agar bisa terus melukis?” tanya H. Musannif dengan penuh kelembutan. Selasa (25/06/2024).
Naila menatapnya dengan mata bercahaya.
“Saya ingin melukis lebih banyak lagi, tapi kami tak punya cukup uang untuk membeli peralatan melukis yang baik,” jawabnya melalui penerjemah.
H. Musannif tersentuh mendengar itu.
Bagaimana bisa, seorang anak dengan bakat luar biasa seperti Naila, tidak mendapatkan dukungan yang layak?. Dalam hatinya, ia bertekad untuk memperjuangkan nasib kaum disabilitas di Aceh.
Menurutnya, mereka sering dipandang sebelah mata dan tidak diberikan kesempatan yang sama untuk berkembang.
“Kaum difabel seperti Naila adalah aset berharga bagi kita semua. Mereka memiliki potensi yang luar biasa, yang hanya perlu kita dukung dan kembangkan,” kata H. Musannif dengan suara penuh semangat.
Ia pun menyerukan kepada Pemerintah Aceh untuk lebih memperhatikan nasib kaum disabilitas.




