[Frasa HUT ke-80 TNI] TNI Prima, TNI Rakyat, Indonesia Maju, menggambarkan arah baru tentara modern. Profesional, responsif, integritas, modern, adaptif. Namun pada intinya, janji itu selalu berpulang kepada rakyat.
Di titik inilah kesaktian Pancasila menemukan relevansinya. Pancasila bukan sekadar dasar negara yang dibacakan di setiap upacara, melainkan panduan hidup yang harus nyata di jalan, di sekolah, di rumah sakit, dan di kantor pelayanan publik.
Kesaktian yang Bukan Mitos, Tapi Kesaksian
Hari Kesaktian Pancasila lahir dari peristiwa kelam sejarah bangsa [G30S/PKI] saat Pancasila diuji di hadapan ideologi yang hendak menggantikannya. Kini, tantangannya berbeda.
Pancasila diuji bukan oleh senjata, melainkan oleh korupsi, kesenjangan sosial, intoleransi, dan lemahnya pelayanan publik.
Kesaktian Pancasila hari ini bukan lagi soal mempertahankan diri dari ideologi asing, tapi soal menghadirkannya dalam praktik berbangsa.
Apakah sila keadilan sosial sudah terasa di pelosok? Apakah kemanusiaan yang adil dan beradab hadir di setiap kebijakan? Apakah musyawarah benar-benar hidup di ruang politik kita?
Upacara di Lhokseumawe adalah kesaksian. Bahwa TNI dan rakyat masih bertekad menjaga “roh” itu tetap hidup.




