Karena kaca rontok total, bagian yang rusak ditutup menggunakan terpal biru yang direkatkan dengan lakban. Kondisi itu membuat bus kehilangan kenyamanan dan keamanan sebagaimana mestinya. Sebagai armada full AC, bus tidak lagi dapat melaju normal karena angin kencang terus masuk ke dalam kabin melalui bagian yang rusak.
Peristiwa ini bukan yang pertama. Sebelumnya, sejumlah kendaraan travel, mobil pribadi, hingga bus yang membawa rombongan Persiraja Banda Aceh juga pernah menjadi korban pelemparan batu di sejumlah ruas jalan Sumatera Utara. Namun hingga kini, kasus serupa terus berulang.
Salah seorang penumpang mengaku kejadian itu mengingatkannya pada pengalaman yang baru saja dialaminya.
“Belum lama ini mobil yang saya tumpangi juga dilempari batu. Sekarang bus yang saya tumpangi mengalami hal yang sama. Ini sudah sangat meresahkan,” katanya.
Barlian Erliadi menilai kejadian tersebut tidak bisa lagi dianggap sebagai gangguan biasa. Menurutnya, lemparan batu yang menghantam jendela di samping kursi perempuan dan balita menunjukkan betapa nyawa penumpang berada dalam ancaman nyata.
“Kali ini perempuan dan balita selamat. Tapi sampai kapan keberuntungan itu ada? Jika batu itu mengenai kepala penumpang, akibatnya bisa fatal. Karena itu kami meminta kepolisian bertindak serius mengungkap pelaku dan mencegah kejadian serupa terulang,” ujar Barlian.




