“Jadi apapun hasil perkembangan dari lapangan (Aceh Tamiang) akan kita laporkan ke Dirjen BP KKP pusat, supaya kerja sama dengan pemerintah pusat ini terjalin terus,” ujarnya.
Di akhir tahun pemerintahannya Mursil ingin ke depan Aceh Tamiang mendapat kepercayaan menjemput program-program berskala nasional, terutama di sektor perikanan yang sangat berpotensi untuk dikembangkan di Aceh Tamiang.
“Apalagi ini sebagai klaster tambak percontohan harus benar-benar intensif kita perhatian baik dari sisi teknologi tambak, lingkungan, pakan hingga metode perawatannya,” tutur Mursil.
Mursil pun menilai penentuan lokasi klaster budidaya udang di pesisir Kampung Dagang Setia, Manyak Payed sudah tepat. Tujuannya agar tambak-tambak terlantar di Manyak Payed bisa produtif kembali.
“Jadi penentuan lokasi klaster undang intensif ini sudah melalui seleksi yang ketat dari KKP. Namun masih banyak tambak-tambak di Aceh Tamiang yang juga berpotensi untuk dijadikan klaster budidaya perikanan seperti di Kecamatan Seruway dan Bendahara,” pungkasnya.
Kepala Dinas Pangan, Kelautan dan Perikanan (DPKP) Aceh Tamiang, Safuan menjelaskan, saat ini udang vaname sudah berumur 36 hari, dengan ukuran rata-rata 3-3,5 gram tapi belum bisa di panen.




