Blangpidie (ADC) Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Akmal Ibrahim menilai sistem perdagangan di wilayah kabupaten setempat lebih banyak membeli dari pada menghasilkan sendiri. Akibatnya, sumber daya dan keuangan kabupaten tersebut banyak yang keluar daerah.
Hal itu dikatakan bupati Abdya, Akmal Ibrahim saat membuka kegiatan Musyawarah Cabang (Muscab) Ke-IV MPC Pemuda Pancasila Kabupaten setempat, di Aula Arena Motel Blangpidie. Sabtu, 24 Agustus 2019.
Menurut Akmal, Aceh pada uamumnya dan Abdya khususnya selalu defisit anggaran, meskipun potensi kabupaten Abdya sangat besar. “defisitnya ini disebabkan produktivitas yang lemah. Produktivitas kita itu sangat rendah,” tegasnya.
Lebih lanjut Akmal menyebutkan, jika ada yang mengatakan cuma ada satu persen orang yang produktif, itu jangan marah, melainkan harus menjadi cambuk untuk bangkit. “Orang bilang kenapa pasar sepi, uang beredar sedikit, cari lapangan kerja susah, itu karena kita deficit,” akunya.
Defisit itu, kata Akmal akibat sistem yang dilakukan semuanya selalu membeli, sedangkan yang dihasilkan sangat sedikit. “Ini faktornya. Siapa yang salah, ya kita-kita juga, termaksud saya,” imbuhnya.
Lebih serius dikatakannya, sistem banyak membeli dari pada menghasilkan itulah yang membuat masyarakat Abdya susah dalam mencari uang lantaran tidak produktif. “Pada umumnya menunggu keberuntungan, itu sikap yang tidak betul. Jadi pemuda Pancasila kita bicara ekonomi,” ajaknya.
Pada kesempatan itu, Bupati Akmal Ibrahim juga mengajak semua kalangan baik Pemuda Pancasila, Ormas, OKP dan lainnya untuk memulai berpikir ekonomi. “Kita tidak punya produk, prodak kita padi, makanya saya ngotot dibidang padi, sawit, sementara sayur-manyur hampir semua kita beli. Makanya uang tidak singgah disini, singgah sebentar lari lagi,” paparnya.(TN).




