Dan di antara keduanya, sering terjadi ketidaksinkronan.
Keterlambatan akhirnya menjadi “area abu-abu” [tidak jelas siapa yang sepenuhnya bertanggung jawab].
Masalah yang Lebih Dalam
FEATURE ini melihat bahwa persoalan dana stimulan bukan semata pada teknis pendataan. Ada tiga masalah mendasar yang terus berulang;
Pertama, kualitas data di hulu yang masih lemah.
Kedua, tekanan sosial yang berpotensi mengganggu objektivitas.
Ketiga, transparansi yang belum sepenuhnya berpihak pada publik.
Dalam kondisi seperti ini, bantuan berisiko tidak lagi dilihat sebagai hak berbasis kebutuhan, tetapi sebagai hasil dari siapa yang paling dekat dengan sistem. Dan itu berbahaya.
Karena ketika persepsi ketidakadilan muncul, yang rusak bukan hanya program [tetapi legitimasi pemerintah itu sendiri].
Dana stimulan seharusnya menjadi simbol kehadiran negara di saat paling genting.
Namun simbol itu bisa kehilangan makna ketika prosesnya dipertanyakan.
Ketika data tidak dipercaya, Ketika daftar diperdebatkan, Dan ketika warga merasa tidak diperlakukan adil [Maka yang dipertaruhkan bukan hanya bantuan, Melainkan kepercayaan].
Dan dalam penanganan bencana, kehilangan kepercayaan adalah bencana yang lain. [].















