KETIKA data naik ke tingkat kecamatan dan diverifikasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah, persoalan tidak serta-merta selesai.
Tim verifikasi dan enumerator diturunkan. Mereka membawa alat ukur, formulir, dan standar kategori. Namun yang mereka hadapi bukan hanya bangunan rusak, melainkan manusia dengan harapan.
“Di lapangan, tekanan itu nyata. Semua merasa berhak. Sementara kami harus tetap berpegang pada kriteria,”
[Reki Ilham, Enumerator Lapangan].
Tekanan sosial bukan sekadar dinamika biasa. Dalam banyak kasus, ia bisa memengaruhi objektivitas.
Relasi kekerabatan, kedekatan dengan aparat, hingga desakan kelompok sering menjadi faktor tak tertulis yang sulit dihindari.
Di sinilah sistem diuji; apakah tetap berdiri di atas aturan, atau mulai bergeser oleh tekanan.
Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tamiang, Iman Suhery, S.STP, MSP. mengakui bahwa tantangan di lapangan bukan hal yang bisa diabaikan.
“Kami tidak menutup mata bahwa ada kesulitan sosial di lapangan. Tapi karena itu juga kami buat sistem berlapis, supaya keputusan tidak diambil oleh satu pihak saja,” ujarnya.
Namun pernyataan itu sekaligus menegaskan satu hal; sistem memang dirancang untuk mengantisipasi masalah [karena masalah itu nyata].
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya















