Ia menjelaskan konsep “Meuligoe Panglima” sebagai simbol kebijakan-kebijakan strategis yang lahir di Aceh Utara. “Meuligoe adalah tempat lahirnya berbagai kebijakan yang akan menjadi dasar pembangunan Aceh Utara, baik dari sisi politik, sosial, ekonomi, budaya, maupun agama,” jelasnya.
“Sedangkan Panglima dalam bahasa Sanskerta, bermakna seseorang yang setia kepada pemimpin, agama, bangsa, tanah air, dan tugas. Kami ingin menghidupkan kembali semangat ini dalam kepemimpinan Aceh Utara ke depan,” tambahnya.
Dalam pidato tersebut, Ayah Wa juga menyoroti persoalan di sektor pertanian, yang menurutnya masih banyak menyisakan tantangan. “Apa yang terjadi dengan pertanian di Aceh Utara? Banyak masalah yang belum tuntas, seperti kekurangan air, kelangkaan pupuk, dan kegagalan panen yang terus berulang,” ungkap Ayah Wa.
Ia menegaskan bahwa jika terpilih, salah satu prioritas utama adalah menyelesaikan masalah-masalah ini. “Insyaallah, Ayah Wa-Panyang akan menuntaskan persoalan pertanian di Aceh Utara. Kita akan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan petani kita mendapatkan dukungan yang layak,” tegasnya.
Tidak hanya sektor pertanian, Ayah Wa juga memaparkan rencana peningkatan pelayanan publik yang lebih baik. Ia berjanji akan menyediakan layanan darurat yang mudah diakses di setiap rumah, seperti pemadam kebakaran, kepolisian, PLN, dan layanan kesehatan.




