Upaya menyatukan dan memberdayakan peningkatan kesejahteraan ekonomi serta lapangan pekerjaan yang layak, bagi seluruh mantan pejuang GAM perempuan. Menjadi tekad wanita.
“Insya Allah setelah saya dilantik nanti program jangka pendek yakni; akan membentuk pengurus disetiap kabupaten/kota se Aceh, supaya semua mantan pejuang Kombatan Perempuan GAM ini terarah, terdata dan terperdayakan ekonomi serta kesejahteraannya,” Katanya.
Banyak perempuan Aceh yang menjadi korban pada saat konflik Aceh berlangsung, belum terperhatikan sampai saat ini. Dia minta Pemerintah Republik Indonesia disemua tingkatan agar lebih peduli terhadap nasib para pere.
Nisa masuk menjadi pasukan GAM tahun 1998 ikut bergerilya dan berjuang bersama rekan-rekan nya yang lain, bahkan putri pertamanya yang lahir ditengah hutan tahun 2002 saat menjadi buronan pasukan TNI/Polri dari tahun 2001, Ia waktu itu juga menjadi muallim yang melatih pasukan inoeng balee, terangnya.
Pasca Aceh damai tahun 2005, dirinya menghabiskan waktu aktif diberbagai organisasi perempuan dan NGO, diantaranya aktif di Liga Inoeng Aceh (LINA), Balai Sura, Lembaga Inoeng Aceh Batee Iliek(LIAB), Kopwan Putroe Jeumpa, Yayasan Perempuan Aceh(YPA) dan Kopwan Cut Nyak Dhien.




