Armia menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Aceh Tamiang sebagai lokasi visitasi kepemimpinan nasional.
Menurutnya, kehadiran para peserta menjadi bentuk dukungan moral bagi masyarakat yang saat ini masih berupaya bangkit dari dampak bencana hidrometeorologi.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dan masyarakat, kami mengucapkan selamat datang. Kehadiran bapak dan ibu di daerah ini diharapkan dapat mempererat hubungan antardaerah serta menjadi motivasi bagi kami untuk bangkit dan semakin kuat,” kata Armia.
Bupati menegaskan, proses pemulihan pascabencana tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik dan dukungan anggaran.
Penanganan bencana, kata dia, membutuhkan kepemimpinan yang cepat, adaptif, serta mampu memahami kebutuhan masyarakat secara langsung.
Data Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang mencatat, bencana hidrometeorologi yang terjadi beberapa waktu lalu berdampak terhadap lebih dari 310 ribu jiwa atau sekitar 75 ribu kepala keluarga yang tersebar di 216 kampung dalam 12 kecamatan.
Menurut Armia, situasi tersebut menjadi ujian nyata bagi pemerintah daerah dalam menjalankan fungsi pelayanan publik di tengah kondisi darurat.
Ia menambahkan, tantangan yang dihadapi pemerintah daerah saat ini sejalan dengan dinamika era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) yang ditandai perubahan cepat, ketidakpastian, serta kompleksitas persoalan di berbagai sektor.




