“Ini bukan hanya proyek lingkungan, tapi juga strategi investasi. Dari Aceh, kita kirim pesan ke dunia: ekonomi hijau adalah masa depan kita,” ucap Abu Salam, penuh retorika diplomatis.
Tak kalah penting, proyek ini juga diharapkan menopang keberlanjutan Jaminan Kesehatan Aceh (JKA).
Dengan menekan biaya pengelolaan limbah medis, anggaran kesehatan bisa dialihkan untuk memperluas layanan JKA.
“Visi besar ini tak berhenti pada persoalan teknis. Ini tentang kedaulatan fiskal, tentang bagaimana Aceh tak lagi tergantung Sumut, dan bagaimana PAD bisa diperkuat dari sektor yang selama ini dianggap beban,” pungkas Syakir.
Momentum 29 September 2025 bukan sekadar rapat birokrasi. Ia adalah deklarasi Aceh untuk mengubah paradigma: dari limbah menjadi emas, dari pemborosan menjadi investasi, dari ketergantungan menjadi kemandirian.
Mualem telah menanam fondasi. Abu Salam dan Syakir kini memainkan peran kunci. Bila rencana ini terealisasi, Aceh bisa menjadi pionir pengelolaan limbah medis B3 di kawasan barat Indonesia—sebuah revolusi hijau yang menjanjikan berkah bagi ekonomi dan lingkungan.(R)




