EKBIS  

Dari Hutan ke Pasar Internasional, Kisah Sukses Peternak Madu Linot di Aceh Besar

ACEH BESAR | MA —  Di balik rimbunnya pepohonan Gle Lambadeuk, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, tersimpan kisah inspiratif tentang bagaimana kekayaan alam dapat menjadi sumber ekonomi berkelanjutan. Deretan kotak kayu sederhana milik Khairil kini menjadi simbol perubahan hidup sekaligus harapan baru bagi masyarakat setempat.

Sejak 2016, Khairil memutuskan meninggalkan profesinya sebagai pemburu madu hutan dan mulai menekuni budidaya lebah Trigona atau yang lebih dikenal masyarakat Aceh dengan sebutan lebah Linot. Bermodalkan pengetahuan yang dipelajari secara otodidak melalui media sosial dan pengalaman lapangan, ia perlahan membangun usaha peternakan madu yang kini berkembang pesat.

BACA JUGA...  Sudah Belasan Tahun Tak Diperbaiki, Jalan Jadi Kolam Lumpur di Aceh Besar

Keputusan itu ternyata membuahkan hasil manis. Saat ini, Khairil mampu memanen sekitar 20 liter madu Linot setiap bulan. Tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal, madu produksi Lambadeuk juga mulai menembus pasar internasional seperti Malaysia, Jepang, hingga Maroko.

Madu Linot dikenal memiliki cita rasa khas dengan kandungan nutrisi tinggi. Produk ini dipasarkan dengan harga mencapai Rp170 ribu per kilogram. Selain madu, Khairil juga memanfaatkan hasil turunan lain seperti propolis dan bee pollen yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi serta diminati pasar kesehatan alami.