PIDIE JAYA | MA — Di bawah atap sederhana di Gampong Lancang Paru, Kecamatan Bandar Baru, kepulan uap tampak menari di atas kuali-kuali besar. Di tempat inilah, kristal-kristal putih lahir dari ketelatenan tangan para santri. Lebih dari sekadar dapur produksi, lokasi ini menjadi simbol tumbuhnya kemandirian ekonomi berbasis pesantren di pesisir Pidie Jaya.
Usaha bertajuk “Garam Santri” kini menjelma sebagai salah satu penggerak ekonomi lokal dari sekitar 200 dapur garam rakyat yang tersebar di kabupaten tersebut. Di tengah target ambisius produksi daerah yang mencapai 100 ton per bulan, kelompok santri di Lancang Paru mampu menyumbang sekitar 7 ton garam setiap bulannya.
Aktivitas di dapur garam tampak lebih semarak pada Selasa, 22 April 2026. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pidie Jaya, Fajri, turun langsung ke lokasi bersama pejabat fungsional dari DPMPTSP Nakertrans. Kunjungan ini bertujuan melihat secara langsung proses produksi garam tradisional yang hingga kini masih dipertahankan oleh masyarakat setempat.
Di tengah tumpukan hasil panen garam, Muhajir selaku pengelola berdiri dengan penuh semangat. Namun di balik optimisme tersebut, ia mengakui masih ada tantangan besar yang dihadapi.




