Bantuan yang Diperebutkan, Data yang Dipertanyakan

Ilustrasi Kalaks BPBD Aceh Tamiang. Iman Suhery, S.STP, MSP

“Dalam bencana, yang diuji bukan hanya daya tahan warga—tetapi juga kejujuran sistem.”

[Kalaks BPBD Aceh Tamiang. Iman Suhery, S.STP, MSP].

  • Di balik panjangnya prosedur dana stimulan, ada celah, tekanan, dan kepercayaan publik yang dipertaruhkan

BENCANA datang cepat. Bantuan datang lambat. Di antara keduanya, ada satu hal yang sering luput disorot: proses yang menentukan siapa yang layak dibantu [dan siapa yang tersisih].

BACA JUGA...  Menyemai Harapan di Jakarta; Langkah Strategis Bupati Aceh Tamiang Menguatkan Sektor Pertanian

Di Aceh Tamiang, daftar penerima dana stimulan bukan sekadar dokumen administratif. Ia adalah “peta nasib” bagi para penyintas.

Masuk dalam daftar berarti peluang untuk bangkit.

Tidak masuk berarti harus bertahan sendiri [setidaknya untuk sementara]. Masalahnya, jalan menuju daftar itu tidak selalu bersih.

Pendataan By Name By Address (BNBA) di tingkat desa menjadi titik awal. Secara konsep, sistem ini presisi. Namun dalam praktik, justru di sinilah kerentanan pertama muncul.

BACA JUGA...  Burhansyah dan Zulkifli Latif Pimpin Langkah Solidaritas, Bantuan Korban Kebakaran di Alue Beurawe

Kesalahan input, data yang tidak mutakhir, hingga potensi subjektivitas aparat lokal menjadi persoalan klasik yang berulang.

Satu nama bisa hilang. Satu kategori bisa berubah. Dan dampaknya tidak kecil.

Karena dalam skema ini, data bukan hanya administrasi [ia adalah keputusan hidup].

Lapangan yang Tidak Netral