BANDA ACEH (MA) — Hingga kini, Majelis Adat Aceh (MAA) masih belum memiliki Ketua definitif sejak wafatnya Prof. Farid Wadji. Situasi ini sudah berlangsung cukup lama, membuat MAA, sebagai lembaga khusus yang menjadi pilar kekuatan adat dan budaya Aceh, tidak mampu menjalankan fungsi organisasinya secara maksimal.
Hal tersebut dikatakan oleh Dr. Usman Lamreung,M.Si pada media lewat siaran persnya, Senin, (11/11).
Usman menyebutkan, akibat kekosongan kepemimpinan ini, MAA tak lagi mampu berkontribusi dalam menghasilkan produk atau kebijakan yang dapat melestarikan serta menjaga marwah adat dan budaya Aceh yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat.
Meskipun Aceh, katanya, dikenal dengan kekayaan budayanya, ketiadaan kepemimpinan di MAA menunjukkan lemahnya upaya untuk mempertahankan warisan tersebut. Lambat laun, adat dan budaya Aceh semakin tergerus oleh pengaruh luar, yang dapat mengancam keberadaan identitas budaya lokal.
Tambahnya, lembaga adat yang seharusnya kuat, kini terus dihadapkan pada berbagai persoalan setiap tahunnya, tanpa perhatian serius dari Penjabat (Pj) Gubernur Aceh. Terkesan bahwa pemerintah enggan atau lamban menyelesaikan krisis kepemimpinan di MAA, sehingga lembaga ini semakin rapuh dan kinerjanya tidak maksimal.
Halaman : 1 2 Selanjutnya














