Lokakarya Kotaku di Sabang Untuk Bangun Desa Lebih Baik

Sabang (ADC) – Lembaga pemerhatikan lingkungan masyarakat Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), melakukan lokakarya di Sabang yang berlangsung dari tanggal 26 hingga 27 September 2019, aula lantai satu kantor Walikota Sabang Kamis (26/09/19), dikuti seluruh Keuchik (Kepala Desa) dan Ketua KSM. Lokakarya yang dibuka Asisten II Pemko Sabang, dihadiri para Muspida dan Forkopimda Kota Sabang.

Kepala Bappeda Kota Sabang Faisal Azwar, ST, MT dalam pidatonya mengatakan, tujuan lokakarya tersebut sebenarnya sebagai berkesinambungan program Kotaku. Sudah beberapa tahun kita telah melaksanakan program dengan target penuntasan kawasan kumuh.

Dari data yang ada bahwa 48, 3 hektar pada tahun 2019 sudah tuntas dikerjakan oleh Kotaku untuk menghilangkan image dari kumuh menjadi kawasan bersih, dan kedepan aakan dihadirkan program pencegahan kumuh. Kemudian kehidupan pedagang pintar, bersih dan ramah juga harus dirumuskan bersama untuk Sabang lebih baik.

Untuk mencapai semua itu, butuh banyak pelaku atau stake holder yang memberikan program bagi kegiatan sesuai dengan fungsi UPTD masing-masing. Misalnya, Dinas Pekerjaan Umum (PU) tentang kawasan kumuh itu apa yang harus dilakukan, tentunya harus ada program dan sinergi dengan program Kotaku., kata Kepala Bappeda.

Masalah tata ruang lanjutnya, bangunan gedung yang sesuai dengan aturan, Dinas Lingkungan hidup apa yang harus dilakukan, seperti kebersihan, pengadaan sarana-sarana kebersihan, air bersih dan mengsosialisasi kemasyarakat.

Kemudian pihak Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) air bersih harus lancar dan layak dikonsumsi dengan melibatkan Disperindagkop atau Dinas Sosial lainnya supaya untuk kawasan kumuh itu tidak hanya, yang mempunyai sarana dan prasarana yang bagus. Selain itu, juga masalah mata pencaharian masyarakat juga terjamin, agar semuanya bisa berjalan dan terjaga.

Untuk penuntasan kawasan kumuh diperkotaan itu sangat kompleks, maka butuh banyak stakeholder pelaku pembangunan yang harus terlibat. Harus duduk bersama dari berbagai level, untuk berkolaborasi.

BACA JUGA...  Kabar Duka Ulama Kharismatik Aceh Wafat

Perluasan program ini akan terus berlanjut, dengan platform yang sudah terbangun ini oleh Kotaku, kita jadikan sebagai model untuk dilaksanakan Pemerintah Daerah sendiri bersama pemuda Gampong. Dengan adanya dana ADD dan ADG yang ada di Gampong berkesempatan untuk membenahi pencegahan kumuh., katanya.

Usai pembukaan lokakarya Kepala dinas PUPR Kota Faisal menambaahkan, pihaknya selalu berkoordinasi dengan Kotaku untuk berbagai kegiatan, termasuk program dari Kotaku tentang sosialisasi ke sekolah-sekolah, guna menjelaskan apa itu kumuh, bagaimana cara menjaga agar kawasan kita tidak kumuh dan juga program-program lain seperti sanitasi dan kebersihan.

“Kita selalu berkoordinasi untuk meningkatkan yang kumuh supaya lebih bagus dan menjaga supaya jangan menjadi kumuh yang baru.
Program ini akan selalu berkesinambungan, artinya supaya jangan kumuh itu harus selalu dijaga. Tapi kalau pelaku-pelaku disini mengerti tentang konsekuensi dalam menjaga lingkungan supaya jangan kumuh mungkin program itu akan terus berlanjut, sehingga Sabang ini betul-menjadi kota yang layak huni,” kata Faisal.

Mewakili dunia perbankan Kepala PT. Bank Aceh Zulfikar mengatakan,
Bank Aceh adalah bank milik Pemerintah Daerah, maka pihaknya terus berupaya seiring dengan cara meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kalau pihak Bank bagaimana cara meningkatkan ekonomi masyarakat dengan sektor-sektor produktifnya, khususnya dalam proses pembiayaan.

Karena sifat Bank itu adalah lembaga formal perlu persiapan, perlu dukungan atau kolaborasi antar instansi, dan tentunya kita tidak bisa berjalan sendiri. Karena Pemerintah Daerah lah, sehingga kami tau sektor-sektor mana yang bisa kita biayai. Jadi, otomatis visi dari Bank Aceh juga mensejahterakan masyarakat Aceh., terangnya.

Ketua Kotaku wilayah Kota Sabang Teuku Misren,ST menjelaskan, pada prinsipnya dalam proses menjalankan tugasnya di Gampong – Gampong kendalanya secara aturan tidak ada, karena program Kotaku adalah berbasis padat karya pemberdayaan.

BACA JUGA...  Petaka Kasbon PJ Sekda Gayo Lues, Sampai Piting Leher Seorang SKPK

“Peran kami disini, bagaimana dalam tahapan proses itu dilakukan maksimal, agar tidak terjadi kendala-kendala.
Kalau didalam konsep pemberdayaan, semakin banyak kritik berarti pemberdayaan itu sudah berjalan, artinya apabila mengkritik berarti dia peduli, tinggal dari pihak kita ini menjelaskan, setelah memahami, mengerti, pasti masyarakat mengikuti,” jelasnya.

Kemudian, kendala yang ada dilapangan hanya sedilit sekali dan bisa diselesaikan masyarakat itu sendiri maka, dengan berkolaborasi perencanaan yang baik baru diikuti penganggaran yang baik, dimulai dari perencanaan bawah, dan penganggarannya dari atas. Sehingga, kita tidak ada tumbang tindih.

“Pada lokakarya ini kami melakukan diskusi deks konsultasi data public ataupun program Gampong dengan FPP dan PKH unicef.
Peran dan fungsi Kotaku yang paling berat, bagaima masyarakat bisa peduli, bertanggung jawab, dan melaksanakan atau menjaga sehingga dikotaku itu, panitia yang merencanakan masyarakat yang memelihara,” ujarnya..

Untuk menjaga kebersihan bukan tugas Dinas Kebersihan semata akan tetapi juga tanggungjawab masyarakat Gampong. Sudah ada pembentukan kelompok-kelompok pemeliharaan lingkungan di masyarakat.

Jadi tinggal kolaborasi bagaimana peran pemerintah membina kelompok masyarakat kita akan mendorong Keuchik membuat reusam Gampong seperti Jumat bersih.

Dalam perencanaan ada 18 Gampong sedangkan projectnya sesuai dengan SK ada Gampong Cot Bak’U, Kuta Timu dan Kuta Barat, tuntasnya pekerjaan Kotaku yang kini dalam peosss adalah Lingkungan Babul Iman. Karena ketiga Gampong itu termasuk dalam kategori tinggi.

Sementara Asisten II yang mewakili Walikota Sabang Drs Kamaruddin meyampaikan terima kasih kepada program Kotaku yang telah melaksanakan programnya di tiga Gampong, yang tingkat kekumuhan tinggi yang harus dituntaskan.

BACA JUGA...  Jumlah Kasus HIV di Aceh Utara Terus Meningkat Selama 2007-2024

Dari 48 hektar kawasan kumuh ini, harapan kita tahun 2019 bisa tuntas dibersihkan, diharapkan bagi Gampong yang sudah tertata itu kiranya dapat terpelihara kemudian terjaga agar, kedepan tidak lagi tumbuh pemukiman kumuh pada daerah-daerah yang sudah kita lakukan penanganan.

Untuk itu perlu dipersiapkan masyarakatnya termasuk memanfaatkan kawasan yang dulunya kumuh sekarang sudah indah. Itu dimanfaatkan, dijaga sebaik-baik mungkin, sehingga daerah yang sudah terbenah tidak kembali kumuh.

” Artinya ini ada kaitannya berkelanjutan yang sudah kita tata dari kumuh, sehingga terpelihara dan terjaga tidak kembali kumuh.
Setiap Gampong itu tumbuh pemukiman baru, pemukiman baru itulah yang harus sedini mungkin perlu kita antisipasi tidak menjadi pemukiman kumuh,” harapnya.

Tiga Gampong yang memenuhi kriteria paling banyak minimal sambung Kamaruddin, ada 5 dan 7 kriterianya pertama kriteria bangunannya, jalan lingkungan harus bisa diakses oleh pemadam kebakaran, ruang terbuka hijau, drainase, sampah, air minum, dan sanitasi.

Alhamdulillah sesuai dengan target, ini sudah terlaksana 3 Gampong ini akan menjadi pilot project, dan hari ini, hasil yang sudah dilaksanakan ini diangkat dalam lokakarya. Sehingga Gampong-Gampong lain punya pemahaman atau strategi bagaiman tiga Gampong ini sudah berhasil.
Masalahnya potensi dan kemampuan di Gampong yang terbatas, misalnya anggaran yang biasanya hanya mengambil di dana Gampong, padahal ada sumber-sumber lain seperti di perbankan.

“Kalau di Gampong itu masih melihat ini masih sebagai project bukan sebuah program, saya pikir nanti setelah bagus disatu sisi, sisi lainnya sudah bermasalah lagi itu kalau kita lihat sebagai sebuah project. Akan terapi kalau kita lihat sebagai program, salah satu unsurnya berkelanjutan harapan kita semus, dengan dukungan seluruh pihak, teman-teman dari pers juga sangat strategis perannya menyampaikan informasi ke public”, jelasnya.(Jalal).