Aparat keamanan kemudian turun tangan untuk menenangkan situasi dan meminta semua pihak meninggalkan gedung. Tim pendukung Paslon 02 keluar lebih dahulu secara tertib tanpa insiden.
“Kami menduga kericuhan yang terjadi dalam debat tersebut merupakan bagian dari skenario tertentu. Hal ini bisa jadi terkait dengan pernyataan sebelumnya tentang Pilkada Aceh yang rawan dan membutuhkan tambahan aparat keamanan,” imbuh Usman Lamreung yang merupakan dosen Universitas Abulyatama Banda Aceh ini.
Ia mengatakan, Provokasi yang diduga diarahkan kepada pendukung Paslon 02 tampaknya tidak berhasil memancing respons negatif karena berhasil diredam. “Namun, isu ini kemudian diangkat di media dan media sosial, dengan narasi yang seolah-olah menyudutkan Paslon 02 sebagai pemicu kericuhan,” katanya.
Dikatakannya, kampanye di media semacam ini merupakan propaganda yang sengaja dimainkan untuk membangun opini publik bahwa Paslon 02 adalah pihak yang memulai kericuhan. Padahal, setiap peristiwa pasti memiliki penyebabnya.
Sebenarnya, kata Usman, paslon 02 pada posisi sangat prima dan full performa semalam dan pendukung pun sangat kecewa debat terhenti sehingga berbagai hal penting yang akan dilakukan untuk bangun Aceh tertunda penyampaian semalam.




