BIREUEN| MA – Dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi petani kelapa serta menciptakan lapangan kerja baru di Aceh, sejumlah pengusaha dan toke pengumpul buah kelapa meminta kepada Pemerintah Aceh untuk membuka akses pasar ekspor-impor hasil bumi yang lebih kondusif.
Mereka berharap adanya kebijakan yang memungkinkan petani menjual hasil panennya ke luar negeri tanpa hambatan, sehingga meningkatkan kesejahteraan mereka.
Rahman Al Hafidz, seorang toke pengumpul kelapa asal Kecamatan Jeumpa, Bireuen, menyampaikan hal ini saat ditemui awak media di gudangnya di Desa Paloh Limeng, Rabu (26/02/2025). Ia menegaskan bahwa pemerintah perlu segera membuka akses ekspor langsung dari Aceh melalui keputusan Gubernur atau regulasi khusus dalam bentuk Pergub dan Qanun.
Menurut Rahman, pemasaran langsung ke luar negeri melalui pelabuhan dan bandara di Aceh akan berdampak positif bagi petani kelapa. “Jika akses ekspor dibuka, harga beli di tingkat petani bisa meningkat karena persaingan pasar lebih luas. Selama ini, petani kelapa mengeluhkan rendahnya harga di pasar lokal, terutama saat permintaan dari pabrik di Medan, Sumatra Utara, menurun,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa permainan harga oleh pemilik modal besar sering kali membuat petani merugi. “Saat hasil panen melimpah, harga buah kelapa anjlok karena tidak adanya pasar alternatif di Aceh. Akibatnya, petani hanya bisa menjual dengan harga murah ke pasar dalam negeri yang dikendalikan oleh segelintir pihak,” jelasnya.




