Kota Jantho (ADC) – Terkait fenomena hujan Es yang mengguyur sejumlah titik di Aceh Besar, Jumat sore, 12 Juli 2019, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Aceh Besar Aceh Besar menyebutkan hal tersebut merupakan fenomena alam yang biasa sewaktu-waktu dapat terjadi akibat cuaca pada musim kemarau
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Aceh Besar Wahyudin melalui saluran telpon kepada mediaaceh.co.id menjelaskan asal usul munculnya hujan Es dimaksud dan sejumlah hal yang harus menjadi perhatian maayarakat ditengah kondisi cuaca yang ekstrim seperti saat ini.
Hujan Es yang terjadi di dua kecamatan di Aceh Besar, Jumat sore kemarin, yakni di Lamteuba, Capeng, Lampisang Kecamatan Seulimum, dan di Kecamatan Kuta Cot Glie itu, disebutnya . Hujan es, dalam ilmu meteorologi disebut juga hail, adalah presipitasi yang terdiri dari bola-bola es. Salah satu proses pembentukannya adalah melalui kondensasi uap air lewat pendinginan di atmosfer pada lapisan di atas level beku. Es yang terjadi dengan proses ini biasanya berukuran besar.
Hujan es ini itu disebut Wahyudi berasal dari awan berjenis Comulonimbus ( Cb). Dimana awan tersebut sering muncul saat musim kemarau dan mengandung sejumlah bahaya di dalamnya, sebab awan yang membawa warna hitam dan besar biasa juga terjadi lompatan bunga api listrik / petir dan ini sangat dihindari didunia penerbangan.
Diawan ini juga biasanya terdapat butiran butiran es yang akan merusak baling baling pesawat (pembekuan ).
“Fenomena hujan Es di Aceh Besar kemarin bersumber dari awan Comulonimbus. Namun ancaman negatif kepada masyarakat dan makhluk hidup paska turunnya hujan Es itu, kita belum mendapat petunjuk karena belum dilakukan pengukuran , sehingga belum bisa diketahui dampaknya apakah mengandung kadar asam yang tinggi atau tidak, jika mengandung kadar asam yang tinggi dan jika durasi panjang terjadi hujan Es itu akan berefek negatif bagi kehidupan,” kata Wahyudin.
Hal lain yang menjadi pesan Kepala BMKG Aceh Besar itu terhadap awan Comulonimbus itu, kata Wahyudin, masyarakat hendaknya dapat berjaga jaga ketiga fenomena awan itu muncul, sebab awan yang terbentuk berupa kumpulan uap air berwarna abu abu hingga hitam itu dan berbentuk seperti sepatu boot terbalik ke atas itu, membawa daya listrik di dalamnya. Daya listrik itu kerap dilepaskan saat proses menjalang turunnya hujan dan selagi hujan berlangsung.
Untuk itu Wahyudin mengimbau, jika masyarakat melihat potensi hujan yang dibawa oleh awan tersebut, hendaknya segera mencari tempat aman dari alam terbuka, menghindari berteduh dibawah pohon atau tiang/ tower, karena akan menjadi penghantar daya listrik saat awan tersebut melepaskan daya istrik yang dikandungnya.
Terkait ciri ciri hujan yang didukung oleh awan Comulonimbus itu, sambung Wahyudin, hujan diawali oleh angin kencang, durasi hujan pendek dan intensitas hujang lebat.
“Salah satu untuk mudah menandai ciri ciri awan Comulonibus, jika proses pematangan udah terjadi awan tersebut kerap mengeluarkan daya listrik walau tidak diikuti gemuruh,” terang Wahyudin.
Namun, kehadiran awan Comuonimbus itu tidak dapat dihindari jika kondisi musim sedang kemarau, sebab awan itu kerap munculnya di musim kemarau. Tapi setidaknya dapat dihindari efek buruk dari awan tersebut sehingga tidak mengakibatkan fatal bagi masyarakat dan makhluk hidup lainnya.
Di kutip dari keterangan masyarakat di beberapa wilayah dalam Kabupaten Aceh Besar, fenomena negatif oleh awan Comulonimbus ini pernah terjadi di Kecamatan Jantho yaitu di Gampong Cucum, dimana seorang wanita tiba tiba disambar petir saat berada di tengah sawah dua tahun lalu. Korban merupakan warga Gampong Keudep Kecamatan Seulimum. Bukti lain, sejumlah pohon kelapa milik warga juga hampir setiap tahun menjadi korban dari jahatnya awan tersebut mengantar dara listrik hingga terbakar pohon kelapa warga yang sering disebut dengan bahasa masyarakat adalah disambar petir. (Dahlan).




