Ia berharap, petugas tidak hanya memberikan saran, tetapi juga turun langsung untuk mengambil sampel tanah guna diperiksa lebih lanjut.
“Kami ini petani, mana tahu soal teknis begitu. Harusnya petugas yang ambil sampelnya lalu dibawa ke laboratorium,” tambahnya.
Fenomena serupa pernah terjadi tahun lalu, saat padi berusia 35 hari. Saat itu, sebagian petani gagal panen karena tanaman mengalami kondisi serupa.
“Ini kejadian yang kedua. Tahun lalu juga begini, akhirnya kami gagal panen. Kalau dibiarkan, kami bisa kehilangan penghasilan, karena semua bergantung pada sawah,” ungkap Subhan.
Ia menegaskan bahwa pengamatan visual saja tidak cukup. Pemeriksaan laboratorium atas sampel tanah dinilai penting untuk menemukan akar permasalahan.
Menanggapi laporan ini, Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan Kabupaten Aceh Tamiang, Yunus, menyatakan akan segera menindaklanjuti dan meminta penyuluh kembali turun ke lapangan.
“Akan segera dicek kembali. Kalau sampai tanaman mati begitu, pasti ada masalah dengan tanahnya. Kalau tanahnya bagus, tidak mungkin mati,” pungkasnya. [Syawaluddin].




