BANDA ACEH | MA – PT Bank Aceh Syariah (BAS) terus menghadapi berbagai polemik yang mencerminkan lemahnya tata kelola internal. Kekosongan direksi yang berkepanjangan serta pergantian Plt. Direktur Utama yang menuai kritik publik menjadi indikator perlunya pembenahan mendalam dalam manajemen bank ini.
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Rektor I Universitas Abulyatama (Unaya), Dr. Usman Lamreung, M.Si, dalam siaran persnya pada media, Ahad (23/3).
Menurutnya, sebagai lembaga keuangan daerah dengan peran strategis dalam pembangunan ekonomi Aceh, BAS harus segera keluar dari permasalahan internal dan lebih fokus pada kebijakan yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat.
Sebagai bank yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BAS dituntut untuk menerapkan tata kelola yang profesional, transparan, dan akuntabel. “Stabilitas manajemen menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan publik dan keberlanjutan usaha,” ujar Usman.
Ia menegaskan bahwa konflik internal yang berlarut-larut hanya akan menghambat pertumbuhan bank serta melemahkan daya saingnya di tengah persaingan perbankan yang semakin ketat.
Salah satu langkah strategis yang harus segera dilakukan adalah menurunkan margin pembiayaan agar lebih kompetitif. Saat ini, tingginya biaya pembiayaan menjadi keluhan utama masyarakat. Jika suku bunga lebih bersaing, BAS berpotensi menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Aceh, terutama di sektor riil yang masih menghadapi banyak tantangan.



