Di hari HUT TNI ke-80. Air mata yang menetes bukan sekadar tanda haru, tapi juga rasa syukur, lega, dan doa yang seolah terjawab dari langit di hari ulang tahun Tentara.
Satu Video yang Menggerakkan Nurani
Kisah ini bermula dari sebuah video sederhana saat dikirim oleh Abu Abati Cunda, Ketua MPU Lhokseumawe, kepada Danrem Ali Imran. Dalam video itu, tampak rumah reyot milik keluarga Ilyas (54) dan Rasidah, berdiri rapuh di antara pepohonan.
Anak mereka, Faisal, yang masih bersekolah di dayah, beberapa hari tidak masuk belajar karena malu dan terhambat oleh kesulitan ekonomi keluarga.
“Saya dapat video itu dari Abu Abati,” ujar Kolonel Ali Imran lirih. “Anak pak Ilyas tidak masuk sekolah karena kesulitan ekonomi. Kalau begini, ini bukan hanya urusan mereka [ini tanggung jawab kita bersama].”
Kalimat sederhana itu seperti percikan api di tengah malam gelap. Ia menggerakkan nurani banyak orang [TNI, Polri, PLN, pemerintah daerah, dan warga] untuk turun tangan membantu keluarga Ilyas, telah bertahun-tahun mereka hidup di rumah sangat tak layak disebut tempat tinggal.
Gotong Royong yang Menyalakan Harapan
Dalam waktu satu bulan, rumah itu berdiri tegak. Belasan prajurit TNI bersama anggota Polri, masyarakat, dan para dermawan bahu-membahu mengangkat batu, mencampur semen, menyiapkan kayu, hingga akhirnya rumah itu rampung dengan tiga kamar, dapur, dan kamar mandi sederhana.




