Karena itu, klaim bahwa Jeumpa merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara belum dapat dipastikan secara akademik.
Pusat Perdagangan
Letaknya yang strategis di pesisir utara Aceh menjadikan Jeumpa diduga berkembang sebagai pelabuhan dagang yang ramai dikunjungi pedagang asing. Melalui jalur inilah budaya dan agama, termasuk Islam, mulai masuk ke Aceh.
Perdagangan komoditas seperti kapur barus, hasil hutan, rempah-rempah, dan emas diduga menjadi sumber kemakmuran wilayah tersebut.
Dalam Catatan Sejarah
Berbeda dengan Samudra Pasai yang memiliki bukti berupa batu nisan Sultan Malik al-Saleh, mata uang emas dirham, dan catatan pengembara seperti Ibnu Battutah, Kerajaan Jeumpa lebih banyak dikenal melalui:
Hikayat Aceh.
Tradisi lisan masyarakat.
Kajian sejarah lokal.
Penelitian sejumlah budayawan Aceh.
Hingga kini belum ditemukan prasasti atau dokumen sezaman yang secara tegas menjelaskan struktur pemerintahan maupun daftar raja-raja Jeumpa.
Hubungan dengan Kerajaan Lain
Sejumlah penelitian menyebut kawasan Jeumpa kemudian berada dalam pengaruh Kesultanan Peureulak, Samudra Pasai, hingga akhirnya menjadi bagian dari Kesultanan Aceh Darussalam pada masa ekspansi Sultan Ali Mughayat Syah dan Sultan Iskandar Muda. Adv




