Untuk sebuah klub yang begitu terikat dengan rakyatnya, rasanya seperti alam semesta sendiri yang menuliskan takdir mereka. Ketika mereka melangkah ke lapangan Chuncheon untuk debut ACLE mereka, mereka tidak hanya membawa lencana, tetapi juga semangat sebuah provinsi.
Ironisnya, pertandingan kandang pertama mereka yang bersejarah di ACLE tidak akan berlangsung di Gangneung, kota yang dilanda kekeringan dan hujan, melainkan di Chuncheon — kota yang hubungannya dengan klub telah tegang. Perselisihan politik seputar pertandingan kandang meninggalkan luka, permintaan maaf dilontarkan, dan kebencian membara.
Kini, sorotan Asia beralih ke Chuncheon. Kota ini mengerahkan segalanya untuk ini — perluasan bus, dorongan pariwisata, dan kebanggaan warga dipertaruhkan. Bagi Gangwon, pertandingan ini bisa lebih dari sekadar debut; ini bisa menjadi upacara penyembuhan, malam di mana politik lokal tenggelam dalam gemuruh suara bersama.
Di garis tengah, Shanghai Shenhua tersandung ke Chuncheon seperti binatang buas yang terluka.
Pertandingan terakhir mereka? Hasil imbang 3-3 yang kacau dengan Shandong Taishan, diwarnai kontroversi, keputusasaan, dan kejatuhan emosi. Pelatih Leonid Slutsky muncul dengan perasaan hancur. “Saya merasa ingin mati sekarang… mungkin saya tidak ingin memikirkan pertandingan berikutnya. Saya benar-benar tidak bisa menjawabnya sekarang. Saya benar-benar merasa ingin mati.”
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya















