Pelatih Jung, yang merupakan seorang ahli taktik dan figur ayah, menghadapi rasa sakit itu secara langsung. “Saya bilang pada Min-woo untuk melepaskan semua penyesalan karena tidak bisa bermain di tim nasional mulai hari ini. Kesempatan itu pasti akan datang,” desaknya.
Debut ACLE ini lebih dari sekadar pertandingan bagi Min-woo. Ini adalah wadah peleburannya. Kesempatannya untuk menerima penolakan dari tim nasional dan melemparkannya kembali ke hadapan para pemilih. Setiap intersepsi, setiap umpan terobosan, setiap lari cepat yang putus asa akan mengalirkan dendam yang disamarkan sebagai seni. Jika Gangwon ingin menuliskan debut impian mereka, itu akan terjadi melalui detak jantung Min-woo.
Perjuangan Gangwon bukan hanya perjuangan mereka sendiri. Provinsi asal mereka sedang mengalami kekeringan terburuk yang pernah tercatat. Tanaman layu, keran mengering, truk-truk air bergemuruh ke kota-kota bagaikan jalur penyelamat yang tak terelakkan. Klub merespons dengan solidaritas: donasi, langkah-langkah konservasi, bahkan toilet portabel untuk menyelamatkan pipa-pipa air.
Dan kemudian tibalah pertandingan Seoul. Langit terbuka. Hujan seratus milimeter turun di Gangneung — hujan ajaib, bertepatan sempurna dengan kemenangan 3-2 mereka. “Saya sangat senang bisa memberikan hadiah kemenangan kepada warga Gangneung yang mengunjungi stadion,” kata Pelatih Jung, kata-katanya dipenuhi haru. Gubernur Kim Jin-tae menyebutnya “hadiah yang luar biasa.”




