“Karena tak mampu, maka iri melihat kehidupan Muzakir Manaf,” katanya.
Pon Peunawa juga menyinggung fenomena lama yang terus berulang: laki-laki alim di depan publik, tetapi liar di belakang layar. Di mimbar bicara moral, di ruang publik tampil religius, namun dalam praktik justru terjebak perselingkuhan, hubungan gelap, hingga praktik “jajan sembarangan”.
“Yang seperti ini justru banyak, tapi aman. Tidak disorot, tidak dihakimi,” ujarnya.
Ia menilai perilaku munafik tersebut bukan hanya diketahui di Aceh, tetapi telah menjadi buah bibir di luar daerah, terutama di kalangan perantau. Citra religius yang ditampilkan sebagian laki-laki Aceh kerap berbanding terbalik dengan perilaku nyata.
“Ini yang sebenarnya mencoreng martabat Aceh, tapi jarang disentuh,” tegasnya.
Dalam konteks itu, Pon Peunawa menilai Muzakir Manaf justru berada di posisi berlawanan. Kehidupan pribadinya dijalani tanpa sembunyi-sembunyi, tanpa kepura-puraan kesetiaan, dan tanpa topeng moral.
“Kalau menikah, ya menikah. Tidak main belakang, tidak hidup dua wajah,” katanya.
Ia menyindir keras kelompok yang paling vokal menyerang Muzakir Manaf sebagai moralis musiman—lantang ketika menyerang orang lain, namun bungkam ketika harus bercermin pada diri sendiri.





