Moral Dijadikan Senjata, Iri Disembunyikan: Dukungan Mengalir pada Sikap Terbuka Muzakir Manaf

BANDA ACEH | MA — Serangan terhadap kehidupan pribadi Gubernur Aceh Muzakir Manaf terus diproduksi dengan bungkus moral. Poligami diangkat sebagai isu utama, seolah menjadi ukuran tunggal integritas seorang pemimpin. Namun di balik gempuran tersebut, dukungan justru mengalir dari warga yang menilai serangan itu sarat iri, ketakutan, dan standar ganda.

BACA JUGA...  Di Mana Uang BB Dugaan Korupsi Pemotongan Dana Banjir Aceh Jaya?

Salah satunya datang dari T. Azhari, yang akrab disapa Pon Peunawa, pria asal Peudada, Kabupaten Bireuen. Ia menilai, keberanian Muzakir Manaf menjalani kehidupan pribadi secara terbuka justru menunjukkan sikap gentleman yang langka di tengah maraknya kemunafikan sosial.

“Saya sangat mendukung sikap gentleman-nya seorang Mualem. Sebagai lelaki, ia nyaris sempurna: tampan, mapan, mantan panglima, Gubernur Aceh, Ketua PA sekaligus Ketua KPA. Pokoknya keren untuk simbol laki-laki Aceh,” ujar Pon Peunawa, Selasa (21/1/2026).

BACA JUGA...  KPA Luwa Nanggroe Serahkan 10 Unit Mobil untuk Menangkan Mualem di Pilkada 2024

Menurutnya, serangan yang diarahkan kepada Muzakir Manaf tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial yang selama ini jarang diungkap secara jujur. Banyak laki-laki, kata dia, ingin menikah lagi tetapi tidak mampu dan tidak berani, terutama karena tekanan ekonomi dan ketakutan terhadap istri pertama. Keinginan yang terpendam itu lalu berubah menjadi kecemburuan ketika melihat tokoh publik yang mampu dan terbuka.