Namun, di sisi lain, ada pula masyarakat yang memandang tindakan itu sebagai bentuk toleransi dan penghormatan antarumat beragama di Indonesia yang majemuk.
Bulan Mei sendiri dikenal sebagai Bulan Maria dalam tradisi Gereja Katolik, yakni masa penghormatan kepada Bunda Maria yang diperingati umat Katolik di berbagai daerah.
Meski demikian, Hasballah menilai seorang pejabat negara seharusnya lebih bijak dalam menggunakan simbol budaya daerah agar tidak memicu polemik di tengah masyarakat.
“Kalau ingin menyampaikan ucapan terkait kegiatan keagamaan tertentu, sebaiknya menggunakan pakaian dinas atau busana lain yang netral, bukan memakai pakaian adat Aceh,” tegasnya.
Ia berharap persoalan tersebut dapat segera disikapi pemerintah pusat agar tidak berkembang menjadi polemik berkepanjangan.
“Harapan kami, Presiden dapat memberikan teguran ataupun evaluasi terhadap Menteri Agama agar persoalan seperti ini tidak terus berlanjut dan menimbulkan kegaduhan di masyarakat,” pungkasnya.(Haskad)
Halaman : 1 2















